BeritaNasional

Kerja Sama Indonesia-Tiongkok Kembangkan Talenta Metalurgi melalui Laboratorium Bersama di ITB

1
×

Kerja Sama Indonesia-Tiongkok Kembangkan Talenta Metalurgi melalui Laboratorium Bersama di ITB

Sebarkan artikel ini
Foto dokumentasi yang diabadikan pada 14 Juni 2024 ini menunjukkan peserta wisuda kelompok kedua dengan program pelatihan bersama di bidang teknik metalurgi berfoto bersama sesudah acara kelulusan di depan pintu gerbang Central South University (CSU) di Tiongkok tengah. (Xinhua)

JAKARTA, 23 Oktober (Xinhua), eNewskalteng.com – Semangat Bandung yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika 1955 kembali menemukan relevansinya melalui kerja sama Indonesia dan Tiongkok di bidang pendidikan, penelitian, serta pengembangan sumber daya manusia. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pendirian laboratorium bersama di Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat.

Foto yang diabadikan pada 3 Agustus 2026 ini menunjukkan para mahasiswi kelompok kelima dengan program pelatihan bersama di bidang teknik metalurgi mengikuti kelas bahasa Mandarin di Jingmen, Provinsi Hubei, Tiongkok tengah. (Xinhua)

Laboratorium Penelitian Bersama Tiongkok-Indonesia untuk Material Energi Baru dan Teknologi Teknik Metalurgi diresmikan pada 28 Agustus 2024 di kampus ITB Jatinangor. Fasilitas ini dibangun melalui kolaborasi perusahaan ekonomi sirkular asal Tiongkok, GEM Co., Ltd., ITB, dan Central South University (CSU), dengan investasi GEM sebesar 30 juta dolar AS.

Laboratorium tersebut menjadi fasilitas penelitian bersama pertama Indonesia-Tiongkok yang berfokus pada material energi baru dan teknik metalurgi. Kehadirannya diharapkan memperkuat kemampuan riset nasional sekaligus menyiapkan tenaga profesional yang mampu menjawab kebutuhan industri pengolahan mineral dan material energi baru.

Bagi GEM, investasi di Indonesia perlu disertai pengembangan talenta lokal. Perusahaan itu menilai bahwa pertumbuhan industri membutuhkan tenaga ahli yang memadai, sementara perguruan tinggi memerlukan dukungan fasilitas, teknologi, dan kemitraan dengan dunia usaha. Karena itu, kerja sama pendidikan dan penelitian dipandang sebagai bagian penting dari pembangunan industri yang berkelanjutan.

Laboratorium modern perkuat riset metalurgi

Laboratorium Bersama dilengkapi sekitar 300 perangkat dan instrumen penelitian ilmiah. Fasilitas tersebut mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan dalam tiga tahapan, mulai dari penelitian eksploratif, eksperimen skala kecil, hingga pengujian semi-industri.

Peralatan yang tersedia mencakup reaktor berkapasitas 2 hingga 1.000 liter. Fasilitas ini memungkinkan peneliti mengembangkan berbagai riset, termasuk pemanfaatan sumber daya mineral, material energi baru, daur ulang, dan pengelolaan lingkungan.

Dosen Metalurgi Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Imam Santoso, mengatakan laboratorium tersebut turut meningkatkan daya tarik program studi metalurgi bagi calon mahasiswa.

Menurut Imam, peningkatan minat itu terlihat dari data penerimaan mahasiswa sarjana 2026 yang dipublikasikan portal data Indonesia, Databoks. Ia menilai keberadaan laboratorium menjadi salah satu keunggulan ITB dalam menarik generasi muda untuk mendalami bidang metalurgi.

Imam juga memperkenalkan aktivitas penelitian laboratorium kepada masyarakat melalui video pendek di media sosial. Konten yang menampilkan penggunaan peralatan canggih, kegiatan eksperimen mahasiswa, serta pengalaman belajar di Tiongkok mendapat perhatian luas dan membantu memperkenalkan bidang metalurgi kepada khalayak yang lebih besar.

Ia mengatakan laboratorium tersebut telah menjadi tujuan kunjungan bagi berbagai perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan kelompok masyarakat sejak mulai beroperasi.

Sementara itu, Ketua Laboratorium Bersama sekaligus profesor metalurgi ITB, Zaki Mubarok, menyebut fasilitas tersebut telah membantu meningkatkan efisiensi penelitian. Timnya bahkan telah menerbitkan empat makalah di jurnal akademik internasional dengan dukungan laboratorium.

Sebelumnya, keterbatasan peralatan membuat sejumlah pengujian harus dilakukan di luar kampus dan membutuhkan waktu hingga dua atau tiga minggu. Kini, sebagian besar pengujian dapat diselesaikan di laboratorium sendiri dengan hasil yang tersedia pada hari berikutnya.

Fasilitas tersebut juga dapat dimanfaatkan mahasiswa ITB dan lembaga eksternal setelah melalui proses pendaftaran.

Sejak beroperasi, lebih dari 50 mahasiswa magister, doktor, dan peneliti pascadoktoral dari Indonesia maupun Tiongkok telah melakukan penelitian di laboratorium tersebut. Mereka mengerjakan lebih dari 50 proyek penelitian dan mengajukan lebih dari 300 paten di Indonesia, menurut data yang disampaikan Zaki dan timnya.

Laboratorium itu juga menjadi sarana penguatan kerja sama antara perguruan tinggi, industri, dan lembaga penelitian. Hingga saat ini, lebih dari 2.000 tenaga ahli dan peneliti dari berbagai negara telah berkunjung atau mengikuti kegiatan pertukaran di fasilitas tersebut.

Program pendidikan siapkan tenaga ahli lokal

Gagasan pendirian laboratorium bersama berkembang pada 2023, ketika ITB mengusulkan dukungan peralatan pengajaran dari perusahaan-perusahaan Tiongkok yang berinvestasi di sektor pertambangan Indonesia.

Pendiri sekaligus chairman GEM Co., Ltd., Xu Kaihua, menilai bantuan peralatan saja belum cukup untuk mendukung pengembangan industri dalam jangka panjang. Menurut dia, diperlukan kemitraan yang juga memperhatikan peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan penguatan penelitian.

GEM kemudian menggandeng ITB dan CSU untuk mendirikan Laboratorium Bersama. Proses pembangunan berlangsung relatif cepat, yakni sekitar delapan bulan sejak penandatanganan perjanjian kerja sama, dengan masa konstruksi kurang lebih empat bulan.

Zaki mengapresiasi komitmen dan efisiensi tim Tiongkok dalam menyelesaikan proyek tersebut.

Upaya GEM mengembangkan tenaga ahli Indonesia sebenarnya telah dimulai pada 2019, ketika perusahaan itu memperluas investasinya di bidang material energi baru berbasis pengolahan bijih nikel laterit.

Dalam kunjungannya ke Indonesia, Xu Kaihua melihat adanya kebutuhan besar terhadap tenaga profesional di bidang metalurgi. Pada saat yang sama, kapasitas pendidikan dan keterhubungan antara perguruan tinggi dengan industri dinilai masih perlu diperkuat.

Berbekal pengalaman di bidang pendidikan dan hubungan dengan CSU, GEM kemudian meluncurkan program pendidikan magister bersama bagi mahasiswa Indonesia pada Maret 2019.

Program tersebut melibatkan GEM, CSU, serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Keuangan Indonesia. Peserta dipilih berdasarkan kriteria yang disepakati para pihak untuk melanjutkan pendidikan magister di bidang terkait metalurgi di CSU.

Dalam skema pembiayaan awal, LPDP menanggung biaya pendidikan dan kebutuhan terkait pada tahun pertama, sedangkan GEM membiayai dua tahun berikutnya. Kelompok pertama terdiri atas 22 mahasiswa Indonesia.

Pandemi COVID-19 sempat menghambat pelaksanaan program, terutama kegiatan perkuliahan tatap muka, eksperimen, dan magang di Tiongkok. Untuk menjaga keberlanjutan pendidikan, GEM menyediakan peralatan pengajaran dan pengujian di fasilitas produksinya di Sulawesi. Mahasiswa juga mendapat kesempatan melaksanakan eksperimen serta menyelesaikan kebutuhan magang di lingkungan industri tersebut.

Program ini terus berkembang dan memperluas bidang keahlian, dari metalurgi hingga transportasi kereta api dan perdagangan internasional. Jumlah peserta yang semula rata-rata sekitar 30 orang per kelompok pada tiga angkatan pertama kemudian meningkat menjadi 70–90 orang pada angkatan berikutnya.

Xu Pengyun, wakil manajer umum GEM sekaligus sekretaris jenderal pihak Tiongkok di Laboratorium Bersama, mengatakan program tersebut telah melatih 341 mahasiswa magister. Empat lulusan berprestasi juga melanjutkan pendidikan doktoral di Tiongkok.

Minat terhadap program tersebut terus meningkat. Pada 2026, GEM berencana menerima lebih dari 70 mahasiswa, sementara jumlah pelamar melampaui 1.000 orang. Kondisi itu mencerminkan tingginya persaingan untuk memperoleh kesempatan pendidikan dan pelatihan tersebut.

Dekan Pascasarjana CSU, Sun Wei, menilai kolaborasi universitas dan perusahaan dapat menghasilkan tenaga ahli yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri. Kerja sama itu sekaligus menghubungkan pendidikan, penguasaan teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Selain program magister, GEM pada 2023 juga mengajukan program beasiswa bagi mahasiswa ITB dengan alokasi 1 juta yuan setiap tahun. Beasiswa tersebut mendukung biaya pendidikan dan penelitian akademik. Pada tahun akademik 2025–2026, lima mahasiswa pascasarjana Fakultas Metalurgi menerima beasiswa dan menyelesaikan tesis dengan memanfaatkan fasilitas Laboratorium Bersama.

GEM juga menetapkan target pengembangan talenta hingga 2035 melalui program yang disebut sebagai “Rencana Seratus, Seribu, dan Sepuluh Ribu”. Perusahaan tersebut menargetkan dukungan pendidikan bagi 100 doktor, 1.000 magister, dan 10.000 pekerja terampil Indonesia.

Target itu dirancang untuk membangun jalur pengembangan tenaga ahli secara berjenjang, mulai dari pendidikan tinggi hingga keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja.

Bahasa dan budaya menjadi jembatan kedua negara

Selain pendidikan formal dan penelitian, penguasaan bahasa Mandarin serta pemahaman lintas budaya menjadi bagian penting dari program pengembangan talenta GEM.

Setelah menyelesaikan tahun pertama pendidikan magister, mahasiswa Indonesia mengikuti pelatihan bahasa Mandarin intensif selama tiga setengah bulan di pusat pelatihan internasional GEM di Jingmen, Provinsi Hubei, Tiongkok.

Program tersebut menggabungkan pembelajaran di kelas, praktik percakapan, dan kegiatan budaya. Mahasiswa juga berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat melalui kegiatan seperti berbelanja, menanyakan arah, dan aktivitas luar ruangan.

Peserta turut diperkenalkan dengan kebudayaan tradisional Tiongkok, termasuk kaligrafi dan seni potong kertas. Pendekatan ini bertujuan membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan akademik sekaligus memahami kehidupan sosial di negara tersebut.

Menurut GEM, tingkat kelulusan peserta dalam ujian kemampuan bahasa Mandarin HSK Level 4 setelah pelatihan pada dasarnya mencapai 100 persen.

Fajar Bayu Ajiriyanto, yang kini bekerja di Laboratorium Bersama, mengatakan pelatihan di Jingmen membantunya meningkatkan kemampuan berbahasa Mandarin. Sebelum mengikuti program itu, ia hampir tidak dapat berbicara dalam bahasa tersebut, tetapi kemudian mampu melakukan percakapan sederhana.

Fajar mengakui perbedaan sistem pendidikan dan budaya antara Indonesia dan Tiongkok menuntut proses adaptasi. Namun, pengalaman belajar di luar negeri membantunya memahami lingkungan akademik dan profesional yang baru. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia memilih bekerja di GEM dan mengaku puas dengan pekerjaannya.

Xu Pengyun mengatakan setiap mahasiswa Indonesia mendapatkan mentor khusus serta mengikuti pemantauan akademik secara berkala. Mahasiswa diwajibkan menyampaikan laporan pembelajaran mingguan, sementara perkembangan studi mereka tetap dipantau ketika kegiatan perkuliahan berlangsung secara daring selama pandemi.

Ia menegaskan bahwa GEM berharap sebagian lulusan dapat bergabung dengan perusahaan, tetapi tetap memberikan kebebasan kepada mereka untuk menentukan pilihan karier. Sebagian lulusan memilih bekerja di GEM, sedangkan lainnya melanjutkan pendidikan doktoral.

Menurut Xu Pengyun, kerja sama industri dan perguruan tinggi tidak hanya mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga kerja, tetapi juga membuka ruang pertukaran pengetahuan, teknologi, dan pengalaman manajemen.

Mahasiswa yang belajar di Tiongkok memperoleh kesempatan untuk memperdalam keahlian profesional, mempelajari bahasa Mandarin, dan mengenal kebudayaan setempat. Pengalaman tersebut diharapkan membantu mereka berperan sebagai penghubung antara tenaga kerja Indonesia dan Tiongkok di lingkungan industri.

Melalui laboratorium bersama, program magister, dan pertukaran budaya, kerja sama GEM, CSU, dan ITB menunjukkan bagaimana kemitraan pendidikan dapat mendukung pengembangan industri sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat.

Semangat Bandung yang mengedepankan kerja sama dan solidaritas antarnegara berkembang pun mendapat ruang baru melalui pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sumber daya manusia. Kolaborasi ini diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan Tiongkok, serta mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan Global South.(red)