BeritaInternasional

ADB Peringatkan Risiko Banjir Pesisir Asia-Pasifik Meningkat Tajam

1
×

ADB Peringatkan Risiko Banjir Pesisir Asia-Pasifik Meningkat Tajam

Sebarkan artikel ini
Anak-anak sekolah dasar berjalan di jalan yang terendam banjir di sebuah permukiman pesisir di Muara Angke, Jakarta, pada 18 November 2024. (Xinhua/Zulkarnain)

MANILA, 22 Oktober (Xinhua), eNewskalteng.com – Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memperingatkan meningkatnya ancaman banjir di wilayah pesisir Asia-Pasifik akibat kenaikan permukaan laut dan intensitas banjir yang semakin tinggi. Meski demikian, investasi untuk memperkuat ketahanan pesisir dinilai mampu memberikan manfaat hingga 20 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan.

Dalam Asia-Pacific Climate Report 2026: Coastal Risks on the Rise—Actions for a Resilient Future yang dirilis Rabu (21/10), ADB memperkirakan kerugian tahunan akibat banjir pesisir dapat meningkat lebih dari enam kali lipat pada 2050 dan hampir 20 kali lipat pada 2100 jika tidak ada langkah adaptasi yang memadai. Berdasarkan kajian terhadap 30 perekonomian pesisir, kerugian tahunan diproyeksikan mencapai 172 miliar hingga 199 miliar dolar AS pada 2050. Angka tersebut berpotensi melonjak menjadi 520 miliar hingga 739 miliar dolar AS pada 2100, dibandingkan sekitar 27 miliar dolar AS saat ini.

ADB memperkirakan investasi perlindungan pesisir sebesar 9 miliar hingga 19 miliar dolar AS per tahun diperlukan untuk menjaga kerugian banjir mendekati tingkat saat ini. Langkah tersebut berpotensi mencegah kerugian ekonomi senilai 178 miliar hingga 360 miliar dolar AS setiap tahun. Laporan itu juga mencatat lebih dari 400 juta penduduk Asia-Pasifik tinggal dalam radius 10 kilometer dari laut. Kawasan pesisir memiliki peran penting sebagai pusat perdagangan, pelabuhan, pariwisata, dan lokasi warisan budaya.

Tanpa upaya adaptasi yang memadai, negara-negara dengan perekonomian besar berpotensi menanggung kerugian terbesar secara nominal. Sementara itu, negara-negara atol menghadapi dampak relatif yang lebih berat, dengan kerugian tahunan akibat banjir diperkirakan mencapai 30 hingga 60 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2100. ADB turut memperingatkan bahwa banjir pesisir yang sebelumnya diperkirakan terjadi sekali dalam 100 tahun di kota-kota seperti Bangkok, Jakarta, Kolkata, dan Mumbai dapat berubah menjadi peristiwa tahunan pada akhir abad ini.

Proyeksi tersebut menegaskan pentingnya investasi perlindungan pesisir dan langkah adaptasi iklim untuk menekan potensi kerugian ekonomi serta melindungi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir.(red)