Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat terdapat sebanyak 2.656 kasus ISPA sepanjang Agustus 2026, atau bertambah 537 kasus dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini disebabkan meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meluas sehingga berdampak terhadap munculnya kabut asap.
Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi mengatakan, berdasarkan data menunjukkan, kasus ISPA sepanjang 2026 mengalami fluktuasi. Pada Januari tercatat 2.749 kasus, kemudian turun menjadi 2.031 kasus pada Februari dan 1.495 kasus pada Maret. Kasus kembali meningkat menjadi 2.132 pada April, kemudian turun menjadi 1.751 kasus pada Mei. Selanjutnya, kasus naik menjadi 1.922 kasus pada Juni, 2.119 kasus pada Juli, hingga mencapai 2.656 kasus pada Agustus.
Meski mengalami peningkatan, jumlah kasus pada Agustus masih lebih rendah dibandingkan Januari yang mencapai 2.749 kasus. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kasus ISPA juga menunjukkan pola yang fluktuatif. Pada 2024 tercatat 3.195 kasus pada Januari, 2.726 kasus pada Februari, dan 2.922 kasus pada Maret. Sementara pada 2025, kasus ISPA tercatat 2.540 kasus pada Januari dan Februari. Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 1.511 kasus pada Maret sebelum kembali meningkat menjadi 2.109 kasus pada April.
Umar menjelaskan, ISPA umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Namun, paparan kabut asap dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan sehingga seseorang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan ketika kondisi tubuh menurun. “Karena kabut asap, kemudian ada iritasi sedikit. Ketika kondisi tubuh kita kurang bagus, virus bisa masuk,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara memburuk. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap. “Kalau cuaca sudah mulai bagus, kita bisa beraktivitas di luar rumah. Kalau kondisi udara pekat, kita pakai masker dan usahakan lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan,” tutupnya.(man)












