JAKARTA, 16 September (Xinhua), eNewskalteng.com — Film animasi fantasi-komedi asal Tiongkok “All Wishes Come True” mulai menyapa penonton Indonesia sejak awal September. Mengangkat legenda Delapan Dewa, film tersebut menawarkan perpaduan antara cerita mitologi klasik, humor, serta teknologi animasi modern. Antusiasme penonton terlihat di bioskop Cinepolis, Depok Town Square, Jawa Barat, pada Selasa (8/9). Sejumlah penonton tampak memadati area bioskop setelah menyaksikan film yang telah lebih dulu mencatat kesuksesan di pasar domestik Tiongkok tersebut.

Lia (23), mahasiswa Universitas Indonesia, mengaku telah menantikan kehadiran film itu di Indonesia. Ketertarikannya terhadap animasi dari berbagai negara membuatnya penasaran dengan cara “All Wishes Come True” mengadaptasi cerita yang bersumber dari budaya Tiongkok.
Sebelumnya, Lia telah menyaksikan film animasi Tiongkok “Ne Zha”. Menurut dia, kualitas visual film tersebut membuatnya tertarik untuk melihat karya animasi Tiongkok lainnya.
Setelah menyaksikan “All Wishes Come True”, Lia menilai film tersebut tidak hanya mengandalkan tampilan visual. Cerita dan alurnya juga dinilai mampu membawa kisah mitologi klasik ke dalam suasana yang lebih modern, tanpa menghilangkan unsur budaya Tiongkok.
Pengalaman serupa disampaikan Eki (27), penikmat film animasi. Ia melihat film tersebut memiliki daya tarik karena tidak hanya menyajikan fantasi, tetapi juga memasukkan tema mengenai tanggung jawab dan perkembangan karakter.
Menurut Eki, para tokoh dalam film mengalami perubahan dari karakter yang awalnya mengejar kepentingan masing-masing menjadi sosok yang mulai memahami pentingnya memikirkan orang lain.
Karena itu, ia menilai “All Wishes Come True” dapat dinikmati oleh penonton dari berbagai kelompok usia, termasuk mereka yang bukan penggemar khusus film animasi.
Perbincangan mengenai film tersebut juga muncul di media sosial, termasuk X dan Instagram. Sejumlah pengulas menyoroti alur cerita yang penuh kejutan serta kualitas visualnya. Beberapa bahkan membandingkannya dengan “Ne Zha”.
Di Indonesia, Feat Pictures mengumumkan pada 25 Agustus bahwa “All Wishes Come True” akan mulai ditayangkan pada 2 September. Jadwal tersebut dua hari lebih awal dibandingkan rencana peluncuran global di sejumlah negara lain pada 4 September.
Kehadiran film ini di Indonesia mengikuti pencapaiannya di pasar Tiongkok, tempat “All Wishes Come True” telah mencatat pendapatan box office besar sejak dirilis pada pertengahan Juli.
Mengisahkan Perjalanan Delapan Manusia Menuju Keabadian
“All Wishes Come True” menghadirkan kisah delapan manusia biasa yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Mereka memilih menyamar sebagai dewa untuk menjalankan misi memasuki tempat penyimpanan harta karun di Penglai, sebuah alam surgawi dalam cerita film.
Namun, perjalanan tersebut kemudian membawa mereka pada proses perubahan diri. Para tokoh secara bertahap belajar menempatkan keadilan di atas kepentingan pribadi hingga akhirnya memperoleh keabadian dan dikenal sebagai Delapan Dewa atau Eight Immortals dalam legenda Tiongkok.
Cerita tersebut menjadi pijakan bagi sutradara sekaligus penulis film, Mou Zhengyang, untuk menghadirkan interpretasi baru terhadap kisah klasik yang dikenal dalam tradisi Taoisme Tiongkok.
Catat Kesuksesan di Pasar Tiongkok
Sebelum memasuki pasar internasional, “All Wishes Come True” terlebih dahulu mencatat hasil positif di Tiongkok. Film tersebut dirilis pada 18 Juli dan berhasil memperoleh pendapatan 400 juta yuan hanya dalam lima hari pertama penayangan.
Film itu juga memperoleh skor 8,3 dari 10 di situs ulasan film Douban pada periode awal penayangannya.
Performa box office kemudian terus bertambah sepanjang musim panas. Berdasarkan data Maoyan, pendapatan “All Wishes Come True” mencapai 1,90 miliar yuan per Jumat (11/9).
Dengan pencapaian tersebut, film ini tercatat sebagai film dengan pendapatan tertinggi ketiga pada musim panas 2026. Posisi tersebut berada di bawah “Kung Fu Soccer” dengan pendapatan 2,32 miliar yuan dan “Once Upon a Time in the Middle East” yang meraih 2,11 miliar yuan.
Kesuksesan di dalam negeri kemudian diikuti ekspansi ke pasar internasional. Film tersebut diputar di sejumlah wilayah, termasuk Australia, Selandia Baru, Amerika Utara, Inggris, dan beberapa negara Eropa.
Untuk pasar Amerika Utara, pemutaran perdana digelar di Los Angeles pada 13 Agustus. Sehari kemudian, film tersebut mulai diputar di bioskop Amerika Serikat dan Kanada, dengan bahasa Mandarin serta teks bahasa Inggris di lebih dari 100 bioskop terpilih.
Respons positif juga datang dari sejumlah penonton dan pelaku industri hiburan di Amerika Utara.
Penulis lagu sekaligus kreator konten Hannah Avison memberikan penilaian sempurna setelah menghadiri pemutaran perdana film tersebut. Ia menyoroti kualitas animasi dan alur cerita yang membuat penonton terus mengikuti perkembangan kisah.
Sementara itu, aktor sekaligus produser Hollywood John Kyle Sutton mengatakan dirinya tetap tertarik mengikuti film hingga selesai meski biasanya kurang menyukai film berdurasi panjang.
Ia juga melihat karya animasi semacam itu dapat menjadi salah satu sarana bagi penonton Amerika Serikat untuk mengenal lebih jauh budaya Tiongkok.
Mitologi Klasik dengan Sentuhan Modern
Mou Zhengyang mengatakan keputusan untuk menampilkan Delapan Dewa sebagai sosok yang tidak sempurna merupakan bagian dari pendekatan kreatif film.
Berbeda dengan gambaran tokoh-tokoh legenda yang kerap tampil sebagai figur sempurna, film ini memperkenalkan mereka sebagai manusia muda yang memiliki kelemahan, melakukan kesalahan, dan tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan kepentingan orang lain.
Menurut Mou, pendekatan tersebut ditujukan agar penonton lebih mudah membangun hubungan emosional dengan karakter.
Konsep keabadian dalam film juga tidak semata-mata digambarkan sebagai hasil dari kekuatan supranatural. Perjalanan menuju keabadian lebih banyak dikaitkan dengan proses perubahan pribadi, pendewasaan, serta munculnya rasa tanggung jawab.
Konsep modern juga diterapkan dalam penggambaran Penglai. Dunia para dewa dalam film tidak sepenuhnya digambarkan sebagai tempat yang sakral dan jauh dari kehidupan manusia. Sebaliknya, tempat tersebut memiliki sistem yang menyerupai sebuah organisasi, lengkap dengan peringkat, target, dan evaluasi.
Melalui pendekatan tersebut, cerita legenda kemudian dikembangkan menjadi kisah petualangan bernuansa komedi yang juga berbicara tentang pencarian jati diri.
Dari sisi visual, tim produksi memadukan estetika tradisional Tiongkok dengan teknologi animasi masa kini. Riset budaya dilakukan dengan mengunjungi sejumlah situs bersejarah, termasuk Istana Yongle di Provinsi Shanxi dan Gunung Qingcheng di Sichuan.
Produser Cao Linlin mengatakan lokasi-lokasi tersebut menjadi salah satu sumber referensi dalam membangun dunia visual film.
Sejumlah elemen dalam film juga mengambil inspirasi dari peninggalan budaya. Salah satunya adalah kereta yang ditarik ikan, yang terinspirasi dari gambar pada mural kuno.
Warna dan tampilan visual film turut memperoleh inspirasi dari lukisan Tahun Baru tradisional Tiongkok serta seni rakyat. Dengan demikian, unsur budaya tidak hanya disampaikan melalui alur cerita, tetapi juga melalui desain dunia dan karakter.
Identitas Budaya dalam Industri Animasi
Mou menilai perkembangan animasi Tiongkok saat ini tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi. Menurutnya, identitas budaya juga menjadi bagian penting dalam membangun karakter karya animasi.
Ia mengatakan perkembangan teknologi telah mengurangi hambatan teknis bagi animator Tiongkok. Perbedaan karya animasi Tiongkok dengan animasi Barat, menurutnya, kini lebih banyak terlihat pada cara masing-masing menghadirkan budaya dalam cerita.
Mou juga menilai kreator lokal memiliki posisi penting dalam menyampaikan cerita yang berasal dari budaya mereka sendiri secara autentik.
Pandangan tersebut tercermin dalam “All Wishes Come True”, yang memadukan teknologi animasi modern dengan mitologi, seni, dan unsur tradisional Tiongkok.
Film tersebut tidak menjadikan akar budaya sebagai sesuatu yang harus disederhanakan untuk menjangkau penonton internasional. Sebaliknya, elemen budaya justru ditempatkan sebagai bagian dari identitas dan daya tarik utama film.
Bagi penonton Indonesia seperti Lia dan Eki, pendekatan tersebut membuat cerita yang telah berkembang selama berabad-abad terasa lebih dekat dengan penonton masa kini.
“All Wishes Come True” sekaligus menunjukkan bagaimana cerita yang berangkat dari tradisi lokal dapat dikemas melalui medium animasi modern dan diperkenalkan kepada penonton di berbagai negara.(red)












