BeritaPemprov Kalimantan Tengah

Yang Tersisa dari Muktamar ke-35 NU di Jombang: Rombongan Peninjau PWNU Kalteng Manfaatkan Ziarah ke Makam Gusdur dan Tokoh Ulama Lainnya

2
×

Yang Tersisa dari Muktamar ke-35 NU di Jombang: Rombongan Peninjau PWNU Kalteng Manfaatkan Ziarah ke Makam Gusdur dan Tokoh Ulama Lainnya

Sebarkan artikel ini
Rombongan PWNU Kalteng saat ziarah ke makam Gus Dur.(Photo/ist)

Jombang, Jawa Timur, eNewskalteng.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur yang memilih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berlangsung sejak Kamis (27/8/2026) hingga Minggu (30/8/2026) berakhir sudah.

Beberapa anggota rombongan PWNU Kalteng saat ziarah ke makam Gus Dur.(Photo/ist)

Rombongan PWNU Kalteng yang memberangkatkan 4 orang peserta Muktamar dan sekitar 30 peninjau dari jajaran Pengurus PWNU Kalteng, bisa dikatakan sungguh luar biasa, karena seluruh peserta dengan didukung para peninjau sukses menghantarkan pemilihan Ketum PBNU di Muktamar ke-35 yakni KH. Abdul Hakim Mahfudz atau akrab dipanggil Gus Kikin dan KH. Miftahul Akhyar atau Gus Fattah sebagai Rais Am PBNU. ‘’Terpilihnya Ketum PBNU Gus Kikin ini sesuai dengan kesepakatan Pengurus PWNU Kalteng sejak awal keberangkatan sebagaimana yang disampaikan Ketua Tanfidziah PWNU Kalteng,’’ ujar Wakil Rois PWNU Kalteng H. Nuryakin yang dipercaya menjadi Ketua Rombongan Peninjau PWNU Kalteng.

Keikutsertaan H. Nuryakin, yang pernah menjabat Sekda Prov. Kalteng sungguh membawa manfaat besar bagi kami para peninjau. Beliau lah yang memanfaatkan waktu-waktu senggang selama Muktamar berlangsung dengan mengajak rombongan peninjau untuk berziarah ke berbagai Pondok Pesantren dan sejumlah Makam para ulama besar Nahdlatul Ulama, diantaranya ziarah ke Makam KH. Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur yang terletak di kompleks makam keluarga Pondok Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Sesuai dengan peraturan penjaga makam Gus Dur, bahwa para pengunjung hanya bisa menyaksikan dan berdo’a diluar makam yang sudah dibatasi dengan pagar besi keliling, namun entah pagi itu kami bernasib baik, rombongan PWNU Kalteng hari itu justru diijinkan penjaga makam untuk langsung mendekati nisan makam Gus Dur sambil menaburkan bunga. ‘’Sungguh ziarah kali ini benar-benar diizabah Allah SWT, rombongan kami diijinkan masuk hingga ke nisan makam Gus Dur yang merupakan Presiden ke-4 Republik Indonesia,’’ kata KH. Abdul Wahid, AHA.  Sejumlah rombongan PWNU Kalteng tersebut selain H. Nuryakin dan KH. Abdul Wahid, AHA, diantaranya tampak pula  KH. Abdurahman Abdullah, Ustadz Isnaeni Subhan, Dr. Ahmadi, Dr. Dlaifurrahman Anwar Isa, Drs. H. Untung, H. Jayadi, H. Bambang Suryadi serta H. Ansharrudin.

Rombongan PWNU Kalteng saat berkunjung ke Ponpes Al-Fatah, Magetan, Jombang.(Photo/ist)
Rombongan PWNU Kalteng photo bersama dengan Habib Maher di rumahnya.(Photo/ ist)

Seperti tidak merasa Lelah, keesokan harinya rombongan peninjau PWU Kalteng kembali melakukan ziarah. Kali ini mengunjungi Pondok Pesantren Al-Fatah, Temboro, Kabupaten Magetan, Jombang, Jawa Timur. Untuk diketahui Pondok pesantren Al-Fatah yang pertama kalinya didirikan tahun 1958 tersebut merupakan Ponpes terbesar dengan jumlah santri sekitar 27.000, 300 cabang Ponpes diseluruh nusantara dan negara tetangga, serta memilki tenaga pengajar/ ustadz sekitar 20.000 orang. Ponpes Al-Fatah ini secara umum seluruh pengaturan nya bermuara hanya pada dua bagian, yaitu Madrasah Diniyah dan Tarbiyah. Madrasah Dinyah mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pembelajaran/ kurikulum, sedangkan Tarbiyah mengurusui segala sesuatu yang berada diluar urusan kurikulum dan pembelajaran, sehingga cakupan kerja Tarbiyah lebih luas dibandingkan dengan cakupan kerja Madrahasah Diniyah.

Rombongan PWNU Kalteng saat dijamu makan nasi briani oleh Habib Al Maher.(Photo/ist)
Rombongan PWNU Kalteng saat dijamu makan siang oleh Ustad KH. Ubadilah atau Gus Ubed. (Photo/ist)

Untuk dapat mengunjungi Ponpes Al-Fatah tersebut tidak tidak terlepas dari peran Dr. Ahmadi, salah satu rombongan PWNU Kalteng yang rupanya sudah beberapa kali mengunjungi ponpes tersebut. Itulah sebabnya ketika rombongan PWNU Kalteng datang, langsung disambut makan siang bersama KH. Ubaidillah (Gus Ubed) salah seorang pengasuh Ponpes Al-Falah. Perut yang awalnya lapar akhirnya terobati dengan berbagai menu makanan yang cukup enak, mulai dari sayuran khas Jombang, lauk pauk ayam, ikan, daging, udang dan lainnya dan ditutup dengan minum batok kelapa muda.

Ustadz Ubaidilah ini pula lah yang sehabis makan siang, mengajak kami ke Museum Peninggalan jejak Nabi Besar Muhamamd SAW yang terletak di komplek Ponpes Al-Fatah tersebut. ‘’Saat memasuki museum tersebut, bulu kuduk seakan berdiri, namun sayangnya jejak peninggalan baginda Nabi Muhammad SAW diantaranya mulai dari rambut, pedang, jejak kaki hingga sendal Nabi Muhammad SAW dilarang untuk diphoto atau video’’ ungkap H. Noor Ivansyah, salah satu anggota rombongan PWNU Kalteng.

Rombongan PWNU Kalteng saat dijamu makan siang oleh Ustadz H. Taufik.(Photo/ist)

Menjelang sore hari, rombongan kami pun bersiap untuk pulang menggunakan 2 buah mobil travel yang kami carter pulang pergi. Namun beberapa saat sebelum menuju pulang, Dr. Ahmadi melakukan kontak dengan Habib Maher Bin Umar Muhammad Al Battah Al Ahdal Al Yamani, salah seorang pengasuh Ponpes Al-Fatah yang sangat disegani kalangan santri. Beliau seorang ulama yang berasal dari Zabid, Yaman Utara, namun kini sudah berpindah kewarganegaraan Indonesia. Dalam pertemuan dengan Habib Maher tersebut, lagi-lagi kami dihidangi makan bersama nasi briani, yaitu nasi khas Arab yang cukup gurih dan enak karena sangat terasa bumbu khas Arab nya. ‘’Mohon maaf, nasi ini dimasak secara dadakan, jika ada jani sebelum-sebelumnya pasti saya suguhkan nasi briani ikam kambing,’’ ujar Habib Maher sambil tertawa lebar.

Setelah berpamitan, dipandu do’a dan bersalaman dengan KH. Habib Maher, kami pun pulang kembali ke Desa Tambakberas, Jombang, tempat kami menginap. ‘’Semoga perjalanan wisata religi bersama rombongan PWNU Kalteng seperti ini, bisa terulang kembali dilain waktu dan kesempatan,’’ pungkas KH. Abdurrahman. (H. Noor Ivansyah)