BeritaNasional

Menelusuri Warung Roekoen, Rumah Tua Warisan Keluarga Tionghoa di Jakarta

1
×

Menelusuri Warung Roekoen, Rumah Tua Warisan Keluarga Tionghoa di Jakarta

Sebarkan artikel ini
Plang Kos Roekoen dan Warung Roekoen terlihat di depan bangunan Warung Roekoen di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, pada 15 Agustus 2026. (Xinhua/Poppy Amelia S.)

JAKARTA, 25 Agustus (Xinhua), eNewskalteng.com – Di tengah padatnya aktivitas Jakarta, sebuah rumah tua di kawasan Senen menawarkan pengalaman berbeda. Warung Roekoen tidak hanya menyajikan makanan rumahan, tetapi juga membawa pengunjung menikmati suasana masa lalu melalui bangunan, ornamen, dan berbagai koleksi antik yang masih dipertahankan. Warung yang beralamat di Jl. Kramat Pulo Dalam 1 No. B72, Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, itu menempati bangunan yang telah berusia lebih dari satu abad.

Foto yang diabadikan pada 15 Agustus 2026 ini memperlihatkan salah satu sudut ruangan yang dipenuhi berbagai koleksi barang antik dan dekorasi bergaya Tionghoa di Warung Roekoen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. (Xinhua/Poppy Amelia S.)

Dari luar, bangunannya terlihat seperti rumah lama pada umumnya. Namun, ketika memasuki bagian dalam, suasana klasik dengan perpaduan unsur budaya Tionghoa dan sentuhan Eropa segera terasa. Beragam perabot serta dekorasi lama menghiasi ruangan dan menghadirkan nuansa vintage yang kuat. Nama Roekoen sendiri berasal dari gabungan kata “Roemah Koenoe”, yang berarti rumah kuno. Nama tersebut seakan menggambarkan karakter tempat ini yang mempertahankan suasana nostalgia melalui bangunan dan interiornya.

Bagi sebagian pengunjung, suasana Warung Roekoen bahkan terasa seperti berkunjung ke rumah keluarga pada masa lalu. Barang-barang antik dan dekorasi klasik yang memenuhi sejumlah sudut ruangan menjadi daya tarik tersendiri.

Berawal dari Kos Putri

Warung Roekoen didirikan pada 29 April 2024 oleh Dade (62) dan istrinya, yang merupakan keturunan Tionghoa. Namun, keberadaan warung tersebut tidak dapat dipisahkan dari sejarah bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai kos khusus perempuan bernama Koes Roekoen. Ide membuka warung muncul dari kebutuhan para penghuni kos yang kerap mencari makanan ringan. Pada awalnya, warung tersebut memang hanya diperuntukkan bagi para penghuni kos dengan menu sederhana berupa masakan rumahan dan camilan. “Sebelumnya saya bikin kos-kosan premium khusus perempuan. Anak-anak perempuan ini kan biasanya suka ngemil, jadi saya pikir kenapa tidak dibuat warung di bawahnya. Saat itu memang untuk anak-anak kos saja,” ujar Dade kepada Xinhua saat ditemui pada Sabtu (15/8).

Seiring berjalannya waktu, keberadaan warung mulai diketahui masyarakat di luar lingkungan kos. Pengunjung datang bukan hanya untuk menikmati makanan, tetapi juga karena tertarik dengan suasana rumah tua yang dipertahankan. “Mulanya memang untuk memenuhi kebutuhan anak kos. Tapi lama-lama orang luar mulai datang. Mereka mungkin penasaran dengan tempatnya, makanannya juga. Akhirnya yang datang bukan cuma anak kos, tetapi semakin banyak pengunjung dari luar,” tutur Dade.

Rumah Tua Warisan Keluarga

Daya tarik utama Warung Roekoen terletak pada bangunannya. Rumah tersebut merupakan peninggalan keluarga istri Dade dan dibangun oleh kakek sang istri lebih dari 100 tahun lalu.

Karakter bangunan lama masih dipertahankan tanpa dibuat-buat agar terlihat kuno. Arsitektur tersebut kemudian berpadu dengan berbagai ornamen bernuansa Tionghoa yang memperkuat identitas tempat. “Bangunan ini peninggalan keluarga istri saya. Dibangun kakeknya istri. Umurnya sudah lebih dari seratus tahun. Jadi memang dari dulu sudah rumah seperti ini, bukan kita bikin baru supaya kelihatan tua,” ungkap Dade.

Di dalam rumah, pengunjung dapat menemukan guci, keramik dan porselen, piring, lukisan, lampion, hingga kuplet. Berbagai koleksi tersebut berasal dari keluarga Dade dan keluarga istrinya, sebagian merupakan pemberian keluarga dan sebagian lainnya dikumpulkan sendiri. “Barang-barang yang ada di sini banyak yang memang punya keluarga. Ada yang punya saya, ada juga disumbangkan oleh keluarga kami yang lainnya. Kami tampung semuanya. Memanfaatkan barang-barang yang sudah ada,” ujar Dade.

Koleksi bernuansa Tionghoa tersebut berpadu dengan sejumlah benda bergaya Eropa, sehingga menciptakan interior khas tanpa menghilangkan karakter asli rumah. Meski identitas budaya Tionghoa cukup kuat, Warung Roekoen tetap terbuka bagi pengunjung dari berbagai latar belakang.

Nostalgia Lewat Masakan Rumahan

Tidak hanya melalui bangunan dan koleksi antik, nuansa nostalgia juga dihadirkan lewat makanan. Dade memilih konsep masakan rumahan yang sederhana dan dekat dengan pengalaman masa kecilnya. “Kalau makanan, saya memang maunya makanan rumahan. Ini makanan yang dulu saya makan waktu kecil. Bukan makanan yang sifatnya mewah, tetapi makanan yang sudah biasa kita makan di rumah,” tutur Dade.

Ia ingin pengunjung mendapatkan pengalaman makan yang nyaman dan akrab, seolah sedang menikmati hidangan di rumah sendiri. “Saya ingin orang yang datang ke sini merasa seperti makan di rumah sendiri. Makanannya sederhana, tetapi justru itu yang enak. Yang paling penting bisa bikin orang merasa nyaman dan kembali lagi,” lanjutnya.

Menu yang tersedia cukup beragam, antara lain nasi uduk, nasi ulam, lontong, mi keriting bakso pangsit lada hitam, nasi goreng kampung dadar, dimsum, pempek, tempe mendoan, donat, dan roti bakar. Untuk minuman tersedia es kopi gula aren, aneka jus, es teh susu, serta es bunga telang jeruk soda. Harga makanan dan minuman relatif terjangkau, yakni sekitar Rp30.000 per menu.

Tempat Menikmati Momen

Sejak dibuka, Warung Roekoen disebut Dade ramai dikunjungi, khususnya pada akhir pekan dan hari libur. Selain bersantap, pengunjung juga tertarik memanfaatkan suasana klasik tempat tersebut sebagai latar untuk berfoto.

Dian (32), salah seorang pengunjung yang datang bersama keluarganya, menilai nuansa klasik Warung Roekoen memberikan pengalaman berbeda dibandingkan tempat makan lainnya. “Saya sangat suka suasana di Warung Roekoen. Klasik dan penuh nostalgia, jadi terasa berbeda dari tempat-tempat lain. Cocok untuk melepas penat di akhir pekan bersama keluarga, dan juga bagus untuk foto-foto,” katanya.

Jumlah pengunjung biasanya meningkat pada momen tertentu, termasuk perayaan Imlek. Sebagian pengunjung bahkan membawa sendiri pakaian dan perlengkapan untuk pemotretan, seperti cheongsam, kipas lipat, dan lampion.

Namun, aktivitas fotografi tidak terbatas pada perayaan Imlek. Warung Roekoen juga menjadi lokasi foto tahunan sekolah, pre-wedding, hingga perayaan ulang tahun. Untuk kegiatan khusus, pengunjung biasanya datang sejak sekitar pukul 09.00 WIB sebelum warung ramai oleh pengunjung umum. Pengaturan tersebut dilakukan agar kegiatan fotografi tetap nyaman dan tidak mengganggu aktivitas makan.

Menariknya, Dade tidak memungut biaya sewa tempat untuk kegiatan tersebut. Pengunjung cukup memesan makanan dan minuman dari Warung Roekoen. “Kalau mau foto di sini sebenarnya tidak ada sewa tempat. Mau foto tahunan sekolah, pre-wedding, atau ulang tahun, silakan saja. Yang penting pesan makanan dan minuman dari sini,” ujarnya.

Menjaga Warisan, Melibatkan Lingkungan

Di samping mempertahankan bangunan dan koleksi lama, Dade juga berupaya menjaga kualitas pelayanan. Kebersihan dan keramahan menjadi perhatian dalam menjalankan Warung Roekoen. Para pekerja di warung tersebut berasal dari berbagai lingkungan. Sebagian merupakan orang-orang dari pesantren milik keluarga Dade, sedangkan lainnya berasal dari masyarakat sekitar.

Bagi keluarga Dade, Warung Roekoen pada akhirnya bukan sekadar tempat usaha. Warung tersebut menjadi salah satu cara untuk terus memanfaatkan dan merawat rumah yang telah diwariskan selama beberapa generasi. Dari rumah keluarga, kemudian menjadi kos putri, hingga akhirnya berkembang menjadi warung makan, bangunan berusia lebih dari satu abad itu terus menjalani fungsi baru tanpa kehilangan jejak sejarah dan budaya Tionghoa yang melekat di dalamnya.(red)