GUANGZHOU, 21 Agustus (Xinhua), enewskalteng.com – Provinsi Guangdong, China, terus membuka peluang investasi di Indonesia, khususnya pada sektor hilirisasi energi baru dan manufaktur ringan yang berorientasi pada kebutuhan konsumen. Upaya tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam forum yang digelar bersama Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Provinsi Guangdong dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou, China selatan, Selasa (18/8). Forum yang dihadiri lebih dari 100 perwakilan pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi dari China serta Indonesia itu membahas peluang memperluas investasi perusahaan Guangdong sekaligus memperkuat kerja sama industri kedua negara.

Direktur Jenderal Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Provinsi Guangdong Ma Wenfeng mengatakan hubungan ekonomi dan perdagangan antara Guangdong dan Indonesia telah berkembang cukup kuat. Nilai perdagangan Guangdong dengan Indonesia, menurutnya, mencapai sekitar seperenam dari keseluruhan nilai perdagangan China-Indonesia. Sejumlah perusahaan besar asal Guangdong, seperti BYD, Midea, dan OPPO, juga telah mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Guangdong sendiri merupakan salah satu pusat manufaktur utama China. Provinsi tersebut memiliki seluruh 31 kategori industri manufaktur yang tercatat secara resmi serta 10 klaster industri dengan pendapatan tahunan masing-masing mencapai 1 triliun yuan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Konsul Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou Andalusia Tribuana Tungga Dewi mengatakan Indonesia menawarkan pasar yang besar sekaligus posisi strategis sebagai bagian dari kawasan ASEAN. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia memiliki basis konsumen yang luas dan terus berkembang. Letaknya yang strategis juga menjadikan Indonesia salah satu pintu masuk penting menuju pasar ASEAN yang berpenduduk lebih dari 700 juta jiwa.
Menurut Andalusia, kemampuan manufaktur dan penguasaan teknologi yang dimiliki Guangdong sejalan dengan agenda Indonesia untuk meningkatkan kapasitas industri, mempercepat transisi energi, dan memperkuat hilirisasi. Pengalaman sejumlah perusahaan Guangdong di Indonesia menunjukkan besarnya peluang tersebut. Salah satunya adalah PT Indonesia BTR New Energy Material, perusahaan berbasis di Guangdong yang mulai berekspansi ke Indonesia pada 2023. Perusahaan tersebut membangun dua fasilitas produksi di kawasan industri Indonesia. Tahap pertama proyek BTR dengan nilai investasi 478 juta dolar AS telah diselesaikan dalam waktu sekitar 10 bulan dan memiliki kapasitas produksi 80.000 ton bahan anoda per tahun. Setelah tahap kedua rampung, nilai investasi perusahaan diperkirakan mencapai 777 juta dolar AS, dengan kapasitas produksi yang meningkat menjadi 160.000 ton bahan anoda per tahun. Contoh lainnya adalah perusahaan elektronik dan peralatan rumah tangga TCL, yang telah menjalankan bisnis di Indonesia sejak 2004.
Asisten Presiden TCL Technology Group Deng Yinghao mengatakan perusahaan tersebut kini memiliki jaringan bisnis yang semakin luas di Indonesia, meliputi tiga pabrik mitra, sembilan pusat pergudangan, jaringan di 17 kota, serta lebih dari 1.250 gerai mitra ritel. Menurut Deng, keberhasilan TCL tidak terlepas dari strategi lokalisasi, baik dalam pengembangan produk maupun pengelolaan organisasi dan sumber daya manusia.
TCL mengembangkan produk televisi dan pendingin udara yang disesuaikan dengan kondisi iklim Indonesia. Dari sisi tenaga kerja, hanya sekitar 13 staf TCL yang berasal dari China, sedangkan lebih dari 1.000 pekerja lainnya merupakan tenaga lokal, termasuk CEO asal Indonesia. “Kami benar-benar telah berakar dan menyatu dengan Indonesia,” kata Deng.
Peneliti Pusat Studi Indonesia Universitas Jinan, Pan Yue, melihat sedikitnya dua sektor yang memiliki prospek kuat untuk dikembangkan investor Guangdong di Indonesia. Sektor pertama adalah hilirisasi energi baru, mencakup bahan baterai kendaraan listrik, perangkat penyimpanan energi, serta kendaraan energi baru. Sektor kedua adalah manufaktur ringan yang menyasar konsumen, seperti peralatan rumah tangga pintar, keramik bangunan, dan produk elektronik.
Pan menilai pertumbuhan urbanisasi dan peningkatan daya beli kelas menengah Indonesia akan terus menciptakan permintaan terhadap produk-produk tersebut. Kondisi itu dinilai sejalan dengan keunggulan industri Guangdong. Peluang lain juga terbuka pada pengembangan kendaraan listrik roda dua. Xiong Xindong, brand strategy officer Guangdong Lidun New Energy Technology, memperkirakan Indonesia memiliki sekitar 140 juta sepeda motor yang menjadi salah satu moda transportasi utama masyarakat.
Besarnya jumlah sepeda motor tersebut dinilai menciptakan ruang yang luas untuk elektrifikasi transportasi sekaligus membuka peluang bagi perusahaan energi baru asal Guangdong. Lidun New Energy Technology sendiri bergerak di bidang solusi pengisian daya kendaraan listrik, termasuk kendaraan roda dua. Perusahaan tersebut telah memasang stasiun terintegrasi tenaga surya, penyimpanan energi, dan pengisian daya di Jakarta Barat. Selain itu, perusahaan juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah produsen kendaraan roda dua lokal Indonesia.
Mulai Oktober tahun ini, perusahaan tersebut berencana membangun sekitar 500 stasiun pengisian daya terintegrasi di Indonesia untuk mendukung puluhan ribu sepeda motor listrik. Teknologi pengisian cepat yang dikembangkan perusahaan tersebut juga ditujukan untuk mengatasi salah satu tantangan penggunaan sepeda motor listrik, yakni waktu pengisian baterai. Jika sepeda motor listrik konvensional membutuhkan sekitar lima hingga enam jam untuk mengisi baterai hingga penuh, teknologi tersebut diklaim mampu melakukan pengisian penuh dalam waktu sekitar 30 menit dengan jarak tempuh hingga 150 kilometer.
Berbagai contoh investasi dan rencana ekspansi tersebut menunjukkan semakin besarnya peluang kerja sama industri antara Guangdong dan Indonesia, terutama pada sektor energi baru, manufaktur, teknologi, dan produk konsumen. Penguatan investasi di sektor-sektor tersebut diharapkan tidak hanya memperluas hubungan perdagangan, tetapi juga mendorong transfer teknologi, pengembangan industri lokal, serta peningkatan kapasitas produksi di Indonesia.(red)












