PBB, Xinhua, Enewskalteng.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali mengingatkan bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza masih jauh dari aman bagi warga sipil. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan serangkaian insiden yang berdampak langsung terhadap sektor pendidikan di Gaza maupun Tepi Barat akibat operasi militer Israel.
Dalam keterangan yang disampaikan pada Selasa (5/8/2026) waktu setempat, OCHA menyebut seorang siswa kelas enam mengalami luka tembak saat berada di dalam tenda yang digunakan sebagai ruang belajar di Gaza City. Korban segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Sehari sebelumnya, pasukan Israel dilaporkan merobohkan bangunan sekolah terakhir yang masih berdiri di sebuah kompleks pendidikan di Beit Lahia, Jalur Gaza utara. Kompleks tersebut sebelumnya memiliki empat sekolah, namun seluruhnya kini telah hancur.
Menurut OCHA, operasi militer di kawasan tersebut juga mengakibatkan penghancuran sejumlah tenda yang menjadi tempat tinggal sementara bagi hampir 12 keluarga pengungsi di halaman sekolah. Pasukan Israel dilaporkan memasang penanda yang menunjukkan perluasan area dengan pembatasan akses, sehingga organisasi kemanusiaan segera menyalurkan bantuan darurat kepada warga yang terdampak.
Di wilayah Tepi Barat, kondisi serupa juga terjadi. OCHA melaporkan bahwa otoritas Israel merobohkan sebagian bangunan sebuah sekolah di kawasan Masafer Yatta, Hebron bagian selatan. Wilayah tersebut dihuni lebih dari 1.000 warga Palestina yang disebut menghadapi tekanan untuk meninggalkan tempat tinggal mereka.
Lembaga itu menambahkan, hingga kini lebih dari 80 sekolah milik warga Palestina di Tepi Barat berada dalam ancaman pembongkaran atau telah menerima perintah pembongkaran dari otoritas Israel.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, mitra-mitra kemanusiaan di sektor pendidikan terus berupaya menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar. Sepanjang tahun ini, lebih dari 60.000 siswa di Tepi Barat telah menerima layanan pembelajaran remedial dan program mengejar ketertinggalan.
Selain itu, sebanyak 30 sekolah telah direhabilitasi, sementara lebih dari 2.600 siswa dan tenaga pendidik di wilayah berisiko tinggi memperoleh perlindungan, dukungan psikososial, bantuan hukum, serta bantuan tunai untuk menunjang kebutuhan pendidikan. Namun demikian, OCHA menegaskan bahwa keterbatasan pendanaan masih menjadi tantangan besar. Hingga saat ini, baru sekitar 10 persen dari total kebutuhan dana sektor pendidikan yang berhasil dihimpun, sehingga berbagai program bantuan berpotensi terkendala apabila dukungan internasional tidak segera meningkat.(red)












