BeritaEksekutifPemprov Kalimantan Tengah

Peringati Hari Pendengaran Sedunia, RSUD Doris Sylvanus Edukasi Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Anak

69
×

Peringati Hari Pendengaran Sedunia, RSUD Doris Sylvanus Edukasi Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Anak

Sebarkan artikel ini
Suasana Kegiatan. (Photo/Zen)

Palangka Raya, eNewskalteng.com – Dalam rangka memperingati World Hearing Day atau Hari Pendengaran Sedunia yang diperingati setiap 3 Maret, RSUD dr. Doris Sylvanus menggelar kegiatan penyuluhan kesehatan pada Selasa (3/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Instalasi Rawat Jalan rumah sakit tersebut mengangkat tema global “Dari Komunitas ke Ruang Kelas: Perawatan Pendengaran untuk Semua Anak”, yang menekankan pentingnya akses layanan kesehatan pendengaran bagi anak-anak.

Penyuluhan ini menghadirkan tiga dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan, Bedah Kepala dan Leher (THT-KL), yakni Moelyadi Utomo, Nunun Chatra Kristinae, dan Nuch Sabunga.

Dalam pemaparannya, dr. Moelyadi Utomo menekankan bahwa kemampuan mendengar merupakan aspek penting dalam perkembangan anak. Gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi sejak dini dapat berdampak pada perkembangan bicara, pendidikan, hingga masa depan anak.

“Sesuai arahan World Health Organization, kami sangat menekankan pentingnya screening atau deteksi dini. Sebaiknya sejak lahir anak sudah dites pendengarannya. Jika ada kelainan, kita bisa mengatasinya segera agar tumbuh kembang mereka tidak terganggu,” ujarnya.

Melalui penyuluhan tersebut, para pasien dan pendamping dibekali materi edukatif tentang cara mengenali tanda-tanda gangguan pendengaran secara mandiri. Beberapa poin utama yang disampaikan antara lain kemampuan anak merespons suara di sekitar, mengenali gejala fisik maupun perilaku yang mengarah pada penurunan fungsi pendengaran, serta langkah pencegahan dengan menjaga kesehatan telinga agar terhindar dari infeksi.

Sementara itu, dr. Nunun Chatra Kristinae memaparkan visi besar menuju Indonesia Bebas Tuli 2030. Ia menjelaskan ada empat faktor utama yang dapat menyebabkan ketulian dan perlu diwaspadai masyarakat, yakni faktor kongenital atau bawaan sejak lahir, infeksi telinga yang sering diabaikan, paparan kebisingan dalam jangka panjang, serta faktor degeneratif akibat proses penuaan.

Kegiatan penyuluhan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab antara tenaga medis dan peserta, yang mayoritas merupakan pasien serta pendamping di lingkungan rumah sakit.

Melalui kegiatan ini, pihak rumah sakit berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan pendengaran, khususnya pada anak, dapat semakin meningkatPendengaran Anak sehingga gangguan pendengaran dapat dicegah atau ditangani sejak dini.(Zen)