BeritaEkonomiEksekutifPemkab Kotawaringin Timur

Mengenalkan Seni Kerajinan Ramah Lingkungan Ecoprint Kepada Pelajar

80
×

Mengenalkan Seni Kerajinan Ramah Lingkungan Ecoprint Kepada Pelajar

Sebarkan artikel ini
Ketua Dekranasda Kotim, Khairiah Halikinnor, saat meninjau lomba ecoprint antar pelajar, Minggu (11/1/2026). (Foto Normansyah)

Kotawaringin Timur, eNewskalteng.com – Memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Kabupaten Kotawaringin Timur, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) setempat, menggelar lomba membuat ecoprint pada taplak meja di lokasi Sampit Expo 2026. Lomba ini menjadi upaya pemerintah daerah untuk mengenalkan seni kerajinan ramah lingkungan kepada generasi muda, agar kearifan lokal tidak tergerus oleh gempuran tehnologi modern.

Suasana di lapangan futsal indoor stadion 29 November Sampit tampak berbeda dari biasanya. Suara ketukan palu bersahutan saat sepuluh tim dari berbagai sma di Sampit, tampak sedang asyik mengolah kain menggunakan teknik ecoprint, Minggu 11 Januari 2026.

 

“Kami ingin kegiatan ini merupakan upaya menggali potensi daerah sekaligus menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap seni budaya, sehingga regenerasi pengrajin di kotim tidak terputus,” ujar Ketua Dekranada Kotim, Khairiah Halikinnor.

 

Khairiah menegaskan, lomba ini adalah upaya menyiapkan perajin lokal agar mampu bersaing di pasaran. Ia berharap kegiatan ini dapat menggeliatkan ekonomi kreatif melalui kolaborasi inovasi dan kekayaan alam Bumi Habaring Hurung.

 

“Saya menginginkan, teknik ecoprint perlu terus dilestarikan agar budaya lokal tidak tergerus oleh teknologi dan budaya luar dan generasi muda harus bangga dan mampu mengunggulkan produk asli daerah sendiri,” harapnya.

 

Sementara itu Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kotim, Johny Tangkere menerangkan, teknik yang digunakan dalam membuat ecoprint adalah pounding atau teknik pukul. Para peserta menata daun dan bunga di atas kain serat alam, lalu memukulnya secara perlahan hingga pigmen warna alami tumbuhan berpindah menjadi motif yang unik dan estetik.

 

“Saya berharap, kearifan lokal seperti ecoprint, menenun, dan menjawet harus terus dikenalkan kepada anak muda. Hal ini penting agar produk kerajinan tangan tidak tergantikan oleh produk massal buatan mesin,” ujarnya.

 

Dengan digelarnya lomba ini, Dekranasda Kotim berharap akan muncul wirausaha muda baru di bidang ekonomi kreatif, yang mampu mengembangkan potensi alam kotawaringin timur menjadi produk unggulan yang bersaing di pasaran.

“Meski baru pertama kali mencoba, saya sangat antusias mengikuti lomba ini. Sebab selain melatih kreativitas, seni ecoprint juga menuntut kesabaran tinggi dalam setiap prosesnya, pungkas salah satu peserta, Puzha Adrisy,” tutupnya. (man)