Palangka Raya, eNewskalteng.com – Batang Garing, atau pohon kehidupan, merupakan salah satu simbol paling sakral dalam budaya Dayak, khususnya Dayak Ngaju. Simbol ini telah diwariskan sejak zaman leluhur dan dipercaya menjadi petunjuk hidup bagi masyarakat Dayak. Bentuknya yang menyerupai mata tombak menjulang ke langit melambangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta dalam kepercayaan Kaharingan.
Damang Kecamatan Jekan Raya, Kardinal Tarung, Senin (24/11/2025), menjelaskan bahwa Batang Garing bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari mitologi yang menjadi pedoman hidup orang Dayak. Meskipun pohon aslinya tidak pernah ditemukan secara nyata, keyakinan akan makna dan filosofi Batang Garing tetap kuat di kalangan masyarakat, menjadikannya identitas spiritual yang terus dijaga hingga kini.
Dikutip dari berbagai sumber budaya Kalimantan Tengah, Batang Garing diyakini tercipta bersamaan dengan lahirnya leluhur Dayak Ngaju. Oleh karena itu, simbol ini dianggap sebagai penuntun kehidupan dan ajaran moral yang diwariskan turun-temurun. Filosofinya menggambarkan keterhubungan manusia dengan alam, leluhur, dan dunia spiritual.
Secara visual, Batang Garing tersusun dari beberapa elemen penuh makna. Bagian atas yang menyerupai mata tombak melambangkan Ranying Hatala Langit, sumber segala kehidupan dalam kepercayaan Kaharingan. Setiap dahan memiliki tiga buah yang melambangkan tiga kelompok besar manusia, yakni keturunan Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja Bunu yang diyakini sebagai asal-usul kehidupan manusia.
Daun Batang Garing digambarkan menyerupai ekor burung Enggang atau Tingang, burung sakral yang menjadi identitas suku Dayak. Burung ini melambangkan keyakinan bahwa asal-usul kehidupan berasal dari dunia atas sekaligus menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat Dayak dengan alam.
Sementara itu, bagian bawah Batang Garing digambarkan dengan guci berisi air suci dan dahan berlekuk, yang melambangkan dunia bawah atau Jata. Dalam mitologi Dayak, dunia ini dikenal sebagai Pulau Batu Nindan Tarung, tempat manusia pertama kali berada sebelum diturunkan ke bumi. Kehadiran elemen ini melengkapi konsep tiga alam—atas, tengah, dan bawah—yang menjadi dasar filosofi kehidupan Dayak.
Kini, Batang Garing telah menjadi simbol budaya Kalimantan Tengah secara luas. Motifnya hadir dalam batik Benang Bintik, kerajinan tangan, ukiran, hingga ornamen bangunan. Keberadaannya menjadi penanda bahwa identitas budaya Dayak tetap hidup dan terus dihargai sebagai warisan tak ternilai yang memperkaya kebudayaan Indonesia.(kaer)
Penulis : Karina
Editor : Andi Kadarusman












