BeritaBisnisEkonomi

Teh Bawang Dayak, Solusi Sehat Warga Habaring Hurung

189
×

Teh Bawang Dayak, Solusi Sehat Warga Habaring Hurung

Sebarkan artikel ini
Foto Bersama.(Photo/Ist)

Palangka Raya, eNewskalteng.com – Balai Kelurahan Habaring Hurung, Kecamatan Bukit Batu, tampak ramai akhir pekan lalu. Puluhan warga dari berbagai usia berkumpul mengikuti kegiatan sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan Bawang Dayak sebagai teh herbal. Tanaman khas Kalimantan yang dikenal dengan warna merah keunguan ini sejak lama dipercaya masyarakat memiliki khasiat menurunkan kadar gula darah.

Kegiatan yang digagas tim dosen dan mahasiswa Universitas Palangka Raya ini bukan sekadar penyuluhan. Warga diberi kesempatan mempraktikkan langsung cara mengolah Bawang Dayak menjadi teh celup yang higienis dan praktis. “Kita ingin masyarakat tidak hanya tahu khasiatnya, tapi juga mampu mengolahnya sendiri dengan benar,” kata Ahmad Irawan, dosen Farmasi UPR sekaligus ketua tim kegiatan, pada Kamis (28/8/2025).

Di Indonesia, jumlah penderita diabetes melitus terus meningkat. Penyakit ini kini tak hanya menyerang orang tua, tetapi juga generasi muda akibat pola hidup yang kurang sehat. Bawang Dayak hadir sebagai salah satu alternatif alami yang bisa mendukung gaya hidup sehat. Tanaman ini mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid dan saponin yang terbukti membantu menurunkan kadar gula darah.

Selama ini, sebagian besar warga hanya mengonsumsi Bawang Dayak dengan cara direbus. Cara itu dianggap kurang praktis dan tidak tahan lama. Lewat pelatihan ini, warga diperkenalkan dengan inovasi baru berupa teh celup, sehingga lebih mudah disimpan dan dikonsumsi. Zimon Pereiz, dosen Kimia yang juga anggota tim, menambahkan bahwa bentuk teh celup bukan hanya memudahkan konsumsi, tetapi juga menjaga kualitas bahan agar lebih higienis.

Antusiasme warga terlihat sejak awal. Mereka mendengarkan materi dengan seksama, lalu beramai-ramai mengiris umbi bawang, menjemurnya, dan mengemasnya ke dalam kertas celup. Suasana menjadi hangat ketika para ibu mencoba melipat kertas celup dengan rapi sambil bercanda. “Awalnya saya kira susah, ternyata gampang. Rasanya juga enak, tidak terlalu pahit,” kata Suniti, salah seorang peserta.

Untuk mengukur keberhasilan kegiatan, tim melakukan pre-test dan post-test. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan. Sebelum kegiatan, hanya 11,2 persen peserta yang memahami manfaat Bawang Dayak. Setelah pelatihan, angka itu melonjak menjadi 97,2 persen. Peningkatan sebesar 86 persen ini menunjukkan warga tidak hanya mendengar, tetapi juga benar-benar memahami materi yang disampaikan.

Hasil lain yang terlihat adalah keterampilan warga dalam mengolah Bawang Dayak. Hampir semua peserta mampu mengikuti langkah-langkah pengolahan dengan benar, mulai dari pencucian, pengirisan tipis, pengeringan, hingga pengemasan. Banyak yang menyatakan ingin mencoba memproduksi teh Bawang Dayak secara mandiri untuk konsumsi keluarga.

Manfaat kegiatan ini bukan hanya soal kesehatan. Warga juga melihat peluang ekonomi dari produk teh celup. Dengan kemasan menarik dan promosi sederhana, teh herbal ini diyakini dapat bersaing di pasaran. “Kalau dijual di warung atau pasar, pasti banyak yang minat. Selain sehat, ini kan khas Kalimantan,” kata Nurhayati, tokoh masyarakat setempat.

Tim pengabdian turut memberikan gambaran mengenai peluang usaha, mulai dari teknik pengemasan hingga strategi pemasaran. Warga pun diajak membentuk kelompok kecil untuk mengembangkan usaha berbasis produk herbal lokal. “Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya sehat, tapi juga bisa mandiri secara ekonomi,” ujar Irawan.

Kegiatan ini sekaligus mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang dicanangkan pemerintah. Melalui kebiasaan minum teh herbal, masyarakat diharapkan lebih peduli menjaga pola hidup. Program ini juga memberi ruang bagi kearifan lokal untuk tetap bertahan di tengah derasnya penggunaan obat kimia.

Di akhir kegiatan, suasana penuh keakraban. Peserta berbagi cerita, ada yang menyampaikan pengalaman keluarga penderita diabetes, ada pula yang berniat rutin mengonsumsi teh Bawang Dayak setelah pelatihan. Seorang remaja bernama Rian mengaku awalnya enggan ikut karena mengira kegiatan hanya untuk orang tua. “Ternyata seru juga. Saya jadi tahu cara bikin teh herbal, bisa bantu orang tua di rumah,” ujarnya.

Respon positif ini membuat tim pengabdian optimistis kegiatan serupa bisa dikembangkan di daerah lain. Mereka juga berencana melakukan pendampingan agar warga tetap bersemangat memproduksi teh herbal secara berkelanjutan. “Kalau dikelola serius, teh celup Bawang Dayak bisa jadi ikon produk herbal Palangka Raya,” kata Irawan.

Dengan peningkatan pemahaman warga dari 11,2 persen menjadi 97,2 persen, kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi sederhana dapat membawa dampak besar. Dari sekadar tanaman di pekarangan, Bawang Dayak kini menjelma menjadi harapan baru: menjaga kesehatan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat Habaring Hurung.(y)