BeritaInternasional

Xi dan Trump Kenang Sejarah Perjuangan Bersama Tiongkok-AS Melawan Agresi Jepang pada Perang Dunia II

8
×

Xi dan Trump Kenang Sejarah Perjuangan Bersama Tiongkok-AS Melawan Agresi Jepang pada Perang Dunia II

Sebarkan artikel ini
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggelar upacara penyambutan bagi Presiden Tiongkok Xi Jinping, yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke AS, di Gedung Putih, Washington DC, AS, pada 24 September 2026. (Xinhua/Yin Bogu)

WASHINGTON, 25 September (Xinhua), eNewskalteng.com — Lebih dari 80 tahun setelah pasukan Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) saling bahu-membahu melawan agresi Jepang dalam Perang Dunia II, warisan perjuangan bersama tersebut kembali mengemuka di Washington pada Kamis (24/9) ketika para pemimpin kedua negara mengenang ikatan yang terjalin selama perang.

Saat Presiden AS Donald Trump menyambut Presiden Tiongkok Xi Jinping di Gedung Putih pada Kamis pagi waktu setempat, bayang-bayang sejarah masa perang memberi ruang bagi kenangan bersama. Xi mengingat bagaimana kedua bangsa pernah berdiri bahu-membahu melawan agresi fasis. Dengan mengangkat warisan sejarah bersama tersebut, Xi mengenang hubungan erat yang terjalin semasa perang. “Selama Perang Dunia II, rakyat Tiongkok dan Amerika berjuang bahu-membahu melawan agresi fasis. Rakyat Tiongkok tidak pernah melupakan bagian sejarah tersebut, begitu pula rakyat Amerika,” kata Xi.

Trump kembali mengangkat kenangan bersama masa perang dengan mengingat sejarah AS dan Tiongkok yang pernah bertempur bersama sebagai sekutu selama Perang Dunia II. “Sepanjang sejarah, upaya mengejar kepentingan bersama menghubungkan bangsa kita melintasi samudra yang luas, jarak yang sangat jauh, serta berbagai perbedaan, bahkan menjadikan kita sekutu dalam Perang Dunia II,” katanya.

Trump memuji Flying Tigers, yang secara resmi dikenal sebagai Kelompok Sukarelawan Amerika (American Volunteer Group) Angkatan Udara Tiongkok, atas keberanian para pilot Amerika ketika bersama-sama dengan tentara dan warga sipil Tiongkok berperang melawan invasi Jepang. Trump menyampaikan bahwa “perjumpaan Marinir AS dengan rakyat Tiongkok-lah yang menginspirasi Marinir AS untuk mengadopsi frasa dalam bahasa Mandarin yang masih mereka gunakan hingga kini, ‘gung ho‘.” “Marinir AS menggunakan frasa itu untuk menunjukkan antusiasme yang besar, tetapi dalam bahasa Mandarin, frasa itu secara harfiah berarti bekerja bersama,” kata Trump.

Istilah “gung ho” berasal dari gerakan Koperasi Industri Tiongkok, atau juga dikenal sebagai Gerakan “Gung Ho”, yang diluncurkan pada akhir 1930-an untuk mendukung upaya perang Tiongkok. “Sebagaimana rakyat kita bekerja sama untuk memenangkan perang tersebut, Presiden Xi dan saya akan terus bekerja sama untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi kedua bangsa kita,” tambahnya.

Dalam jamuan makan malam kenegaraan yang digelar Trump pada Kamis malam waktu setempat, Xi meluangkan waktu untuk mengenang kembali kisah Rute Hump. “Lebih dari 80 tahun lalu, rakyat Tiongkok dan Amerika berdiri bahu-membahu dalam perjuangan melawan agresor militeris Jepang. Bersama-sama, kita membuka rute udara Hump yang terkenal melintasi Himalaya. Selama Perang Perlawanan Melawan Agresi Jepang, tentara dan warga sipil Tiongkok menyelamatkan ratusan pilot Amerika dengan mengorbankan ratusan ribu nyawa rakyat Tiongkok,” kata Xi.

Flying Tigers membantu membuka dan menjaga Rute Hump, koridor udara vital di atas Himalaya yang menjadi jalur penyelamat bagi Tiongkok semasa perang. Dari 1942 hingga 1945, rute tersebut menjadi salah satu jalur utama bagi pasokan Sekutu untuk mendukung perjuangan Tiongkok melawan agresi Jepang. Penekanan pada aliansi semasa perang ini muncul tepat setelah pertemuan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dengan Trump di sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations General Assembly/UNGA) di New York dua hari sebelumnya.(red)