Kasongan. eNewskalteng.com — Senja turun di Kompleks Sport Center Kasongan. Dari sebuah warung sederhana berdinding papan, aroma kopi hitam dan gorengan panas merebak. Kursi-kursi plastik yang dulu sering kosong kini tak pernah lama menunggu. Obrolan prajurit bercampur tawa warga menjadi pemandangan baru yang jarang ditemui beberapa bulan lalu.

Di balik meja kayu usang, Nur Hidyanti, seorang pedagang makanan, tersenyum lebar. Tangannya lincah melayani pembeli, sementara wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa syukur. “Dulu warung ini sepi sekali, kadang makanan tak habis terjual. Sekarang alhamdulillah bisa buka 24 jam karena selalu ada yang datang,” ucapnya dengan mata berbinar, Sabtu (23/8 2025).
Sejak sekitar 500 personel Batalyon Infanteri 831 Panunjung Tarung (Yonif 831/TP) ditempatkan sementara di Sport Center Kasongan, kehidupan warga sekitar seakan mendapat napas baru. Kehadiran prajurit bukan hanya menambah wajah-wajah baru di kota kecil ini, tapi juga membuka ruang harapan bagi pedagang kecil, tukang ojek, hingga pemilik jasa laundry yang kini merasakan peningkatan penghasilan.
Bagi Nur, perubahan ini terasa begitu nyata. Warung yang dulunya hanya mampu bertahan hingga sore, kini tak pernah berhenti menerima pesanan. Ia bahkan harus meminta bantuan tetangga untuk membantu melayani pelanggan. “Kalau dulu sering bingung, uang dari jualan habis hanya untuk modal lagi. Sekarang bisa menabung sedikit demi sedikit,” katanya lirih.
Namun, denyut ekonomi yang kembali hidup ini bukan sekadar kebetulan. Kehadiran Yonif 831/TP di Katingan merupakan bagian dari kebijakan strategis TNI Angkatan Darat untuk memperluas cakupan pertahanan di Kalimantan. Markas permanen batalyon tengah dibangun di Dukuh Hampangen, sebuah langkah besar yang diawasi langsung Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Tandyo Budi R. dalam kunjungannya Juni lalu.
Bupati Katingan, Saiful, menyebut kehadiran batalyon ini sebagai momentum besar bagi daerahnya. “Selain memperkuat pertahanan negara, keberadaan Yonif 831/TP membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Ini juga menumbuhkan rasa percaya diri warga terhadap negara,” ungkapnya.
Meski dibalut jargon pertahanan dan pembangunan, di lapisan bawah masyarakat, kehadiran prajurit itu diterjemahkan lebih sederhana: perut yang kembali kenyang, dapur yang kembali mengepul, dan anak-anak yang kembali memiliki harapan. “Warung ini seperti hidup lagi,” kata Nur, sambil mengaduk kopi yang mengepulkan uap. “Kalau prajurit tidak ada, entah bagaimana nasib kami.” Suaranya lirih, tapi penuh rasa syukur sebuah ungkapan tulus dari pedagang kecil yang kini kembali punya alasan untuk bermimpi. (Dan)












