HELSINKI, 28 Agustus (Xinhua) eNewskalteng.com — Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia membuat sekitar 560 juta anak di seluruh dunia terpapar setidaknya satu bulan tambahan panas berbahaya setiap tahun, dengan generasi yang lebih muda menanggung dampak yang tidak proporsional, kata Universitas Finlandia Timur (University of Eastern Finland/UEF) pada Kamis (27/8).
Studi yang dipimpin oleh Vrije Universiteit Brussel (VUB) dengan kontribusi para peneliti UEF tersebut menemukan bahwa sekitar 43 persen anak berusia 9 tahun ke bawah kini mengalami setidaknya 30 hari tambahan stres panas setiap tahun akibat perubahan iklim.
Jumlah tersebut dibandingkan dengan sekitar 190 juta orang berusia 60 hingga 69 tahun yang menghadapi peningkatan paparan panas yang sama, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances tersebut.
Penelitian tersebut berfokus pada panas lembap, yang sangat berbahaya karena kelembapan tinggi mengurangi kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri melalui keringat.
Anak-anak terutama sangat rentan karena tubuh mereka lebih cepat panas dibandingkan tubuh orang dewasa dan kurang efisien dalam mengatur suhu. Panas ekstrem dapat menyebabkan dehidrasi dan sengatan panas, sementara paparan yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi proses belajar dan perkembangan kognitif, kata para peneliti.
“Dampak perubahan iklim semakin nyata dan parah. Penelitian kami menunjukkan bahwa anak-anak dan generasi mendatang sangat terpapar dampak ini, dan kerugian yang mereka hadapi akan semakin parah tanpa adanya tindakan,” kata Annalisa Savaresi, seorang profesor di UEF sekaligus salah satu penulis studi tersebut.
Peningkatan panas lembap terbesar yang didorong oleh perubahan iklim terjadi di sejumlah kawasan tropis dan negara-negara miskin, yang penduduknya cenderung lebih muda sehingga lebih banyak anak yang terpapar. Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Barat saat ini memiliki jumlah anak yang sangat tinggi yang terpapar stres panas berbahaya, kata para peneliti.
“Anak-anak di negara-negara berkembang menghadapi paparan yang tidak proporsional terhadap kondisi iklim ekstrem, baik saat ini maupun di masa depan, meskipun mereka memberikan kontribusi paling kecil terhadap emisi gas rumah kaca di masa lalu,” kata Rosa Pietroiusti, penulis utama studi tersebut sekaligus peneliti PhD di VUB.
Para peneliti menyerukan pengurangan tajam emisi bahan bakar fosil untuk membatasi pemanasan global sesuai dengan Perjanjian Paris, serta peningkatan pendanaan iklim bagi negara-negara berkembang.












