JAKARTA, 21 Agustus (Xinhua), enewskalteng.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Akademi Ilmu Sosial China (Chinese Academy of Social Sciences/CASS) membahas peluang baru untuk memperkuat kerja sama Indonesia-China dalam mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

Pembahasan tersebut berlangsung dalam simposium bertajuk “Menyelaraskan Modernisasi ala China dengan Indonesia Emas 2045: Peluang Baru dan Prospek Baru” yang digelar di kantor BRIN, Jakarta, Kamis (20/8). Forum tersebut mempertemukan para peneliti dari BRIN dan CASS untuk membahas berbagai potensi kerja sama, sekaligus mencari titik temu antara agenda pembangunan Indonesia dan pengalaman modernisasi China.
Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Athiqah Nur Alami, mengatakan Indonesia dan China sama-sama memiliki visi pembangunan jangka panjang yang besar. Menurutnya, komunikasi dan pertukaran gagasan antara kedua negara penting dilakukan untuk menemukan bentuk kerja sama yang saling menguntungkan. “Masing-masing negara memiliki mimpi yang besar. China dengan upaya modernisasinya dan Indonesia dengan visi Indonesia Emas 2045. Karena itu, penting bagi kita untuk mengomunikasikan kedua visi tersebut dan mencari upaya bersama untuk mewujudkannya,” ujarnya dalam simposium tersebut.
Dalam forum itu, Deputi Direktur Institut Ekonomi Industri CASS, Li Pengfei, mengidentifikasi empat sektor yang dinilai memiliki potensi besar untuk menyelaraskan modernisasi ala China dengan agenda Indonesia Emas 2045. Keempat bidang tersebut meliputi pengembangan industri, transformasi hijau, digitalisasi, dan konektivitas.
Li menilai Indonesia mempunyai sejumlah modal penting untuk mendukung pembangunan jangka panjang, mulai dari kekayaan sumber daya alam, besarnya populasi usia muda, hingga perkembangan ekonomi digital. Di sisi lain, China memiliki pengalaman dan kapasitas teknologi yang dapat melengkapi potensi Indonesia, terutama dalam bidang manufaktur, teknologi, serta pembangunan infrastruktur digital. Kerja sama kedua negara juga dinilai masih dapat diperluas ke sektor keamanan. Peneliti Pusat Riset Politik BRIN, M. Haripin, mengatakan hubungan Indonesia-China di bidang tersebut belum berkembang sebesar kerja sama ekonomi dan investasi.
Menurutnya, terdapat sejumlah peluang yang dapat dikembangkan, termasuk kerja sama industri pertahanan melalui produksi bersama perusahaan kedua negara, transfer teknologi, serta latihan bersama. Selain keamanan, Haripin menyoroti potensi kolaborasi dalam pembangunan berkelanjutan. Sektor geotermal dan penggunaan kompor induksi menjadi beberapa bidang yang dinilai dapat dikembangkan melalui kerja sama kedua negara. Kolaborasi tersebut tidak hanya mendukung agenda transisi energi dan pembangunan hijau Indonesia, tetapi juga berpotensi membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan serta transfer teknologi.
Sementara itu, Direktur Center for Southeast Asian Studies di Institut Nasional Strategi Internasional CASS, Xu Liping, melihat peluang lebih luas untuk memperkuat sinergi Indonesia-China melalui kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI). Menurut Xu, pengembangan BRI berkualitas tinggi dapat mendorong peningkatan kualitas dan efisiensi kerja sama konkret antara kedua negara. Ia menilai pendekatan tersebut sekaligus dapat memperluas bidang kolaborasi dan memperdalam hubungan Indonesia-China dalam mendukung agenda pembangunan masing-masing negara.
Simposium BRIN-CASS tersebut menjadi salah satu ruang pertukaran gagasan mengenai arah hubungan Indonesia-China ke depan, khususnya dalam menghadapi perubahan ekonomi, perkembangan teknologi, transisi hijau, serta kebutuhan pembangunan berkelanjutan. Melalui penguatan komunikasi dan kerja sama lintas sektor, kedua lembaga berharap potensi yang dimiliki Indonesia dan China dapat semakin dipadukan untuk menghasilkan kolaborasi yang memberikan manfaat bagi pembangunan kedua negara.(red)












