GUIYANG, eNewskalteng.com – Tim panjat tebing Indonesia menorehkan prestasi gemilang dalam ajang World Climbing Series Guiyang di Kota Guiyang, Provinsi Guizhou, Tiongkok barat daya. Hingga berakhirnya dua hari pertandingan, Indonesia berhasil mengamankan dua medali emas. Dua emas tersebut masing-masing dipersembahkan Antasyafi Robby Al Hilmi dari nomor speed putra serta pasangan Raharjati Nursamsa dan Rajiah Sallsabillah pada nomor mixed speed relay atau estafet campuran.

Al Hilmi lebih dahulu memastikan gelar juara pada nomor speed putra pada 11 September 2026. Sehari berselang, giliran Nursamsa dan Sallsabillah menambah koleksi emas Indonesia setelah menjadi yang tercepat pada nomor mixed speed relay dengan waktu 11,35 detik. Pada babak final, pasangan Indonesia tampil tanpa kesalahan berarti dan mampu mempertahankan keunggulan hingga garis finis. Sementara itu, tim kedua Tiongkok yang diperkuat Zhou Ziyu dan Zhang Mengli harus puas dengan medali perak setelah mencatat waktu 14,85 detik.
Medali perunggu menjadi milik tim pertama Amerika Serikat yang diperkuat Samuel Watson dan Emma Hunt dengan torehan waktu 11,85 detik. Perjalanan menuju final berlangsung cukup dramatis. Pada semifinal, tim kedua Tiongkok bertemu tim pertama Amerika Serikat yang sebelumnya memegang rekor dunia nomor mixed relay dengan catatan 10,89 detik. Namun, kesalahan yang dilakukan pasangan Amerika Serikat membuka peluang bagi tim Tiongkok untuk melaju ke final. Zhou Ziyu dan Zhang Mengli menyelesaikan semifinal dengan waktu 11,82 detik.
Situasi berbeda terjadi di final. Tim Tiongkok melakukan kesalahan ketika memanjat sehingga catatan waktunya melambung menjadi 14,85 detik. Kondisi tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh pasangan Indonesia yang tampil konsisten hingga mencatat waktu terbaik 11,35 detik sekaligus memastikan medali emas.
Performa Indonesia di nomor estafet campuran juga terlihat dari kiprah tim keduanya. Antasyafi Robby Al Hilmi yang berpasangan dengan Kadek Adi Asih harus terhenti pada perempat final setelah kalah dari tim pertama Amerika Serikat. Pasangan Indonesia tersebut mencatat waktu 11,97 detik, sedangkan Samuel Watson dan Emma Hunt finis dalam 11,46 detik. Dalam perebutan medali perunggu, pasangan AS kemudian mengalahkan wakil Prancis Jerome Morel dan Capucine Viglione dengan waktu 11,85 detik berbanding 13,40 detik.
Indonesia sendiri menurunkan lima atlet pada kompetisi di Guiyang, terdiri dari dua atlet putra dan tiga atlet putri. Dari seluruh rangkaian pertandingan yang berlangsung selama tiga hari, kontingen Merah Putih berhasil membawa pulang dua emas dari nomor speed putra dan mixed speed relay. Menariknya, keberhasilan Indonesia di nomor estafet turut mendapat dukungan langsung dari Al Hilmi. Setelah meraih emas individu sehari sebelumnya, ia bersama pelatih memberikan semangat kepada pasangan Nursamsa dan Sallsabillah dari bawah dinding panjat sepanjang perlombaan. Al Hilmi juga tampak mengabadikan momen pertandingan menggunakan telepon selulernya. Ia merekam penampilan rekan-rekannya ketika bertanding hingga prosesi penyerahan medali.
Usai seremoni penghargaan, suasana semakin hangat ketika Al Hilmi memberikan ucapan selamat sekaligus berbincang dengan dua rekannya yang berhasil membawa Indonesia meraih emas. Nursamsa mengaku bersyukur atas hasil yang diraih bersama Sallsabillah. Menurut dia, pencapaian tersebut tidak lepas dari kedisiplinan dan konsistensi selama menjalani Latihan. “Saya sangat senang dan bersyukur bisa meraih medali emas. Konsistensi dalam latihan adalah kunci untuk meraih emas,” kata Nursamsa.
Sementara itu, Sallsabillah menyebut keberhasilan di Guiyang menjadi pencapaian penting baginya pada musim 2026. Sebelumnya, ia pernah berpasangan dengan Nursamsa di Krakow, tetapi belum mampu membawa pulang medali. “Saya sangat senang bisa berdiri di podium tertinggi. Di Krakow, saya juga berpasangan dengan Nursamsa, tetapi kami tidak berhasil naik podium. Saya hanya berusaha membuat diri saya lebih baik, dan sekarang saya berada di podium tertinggi,” ujarnya.
Pelatih kepala tim nasional panjat tebing Indonesia, Galar Pandu Asmoro, menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses latihan yang dilakukan secara konsisten. “Keberhasilan ini berkat konsistensi para atlet dalam berlatih,” tutur Galar. Ia menambahkan, hasil yang diperoleh pasangan mixed speed relay di Guiyang sekaligus menunjukkan bahwa target yang telah ditetapkan tim berhasil diwujudkan.
Prestasi di Guiyang semakin menegaskan kekuatan Indonesia pada nomor speed climbing. Tambahan emas dari nomor mixed speed relay menjadi bukti konsistensi para atlet Merah Putih dalam bersaing di nomor kecepatan panjat tebing di level internasional.(red)












