BeritaNasionalTeknologi

Indonesia Dorong Kolaborasi Pendidikan AI China-ASEAN untuk Perkuat SDM Digital

2
×

Indonesia Dorong Kolaborasi Pendidikan AI China-ASEAN untuk Perkuat SDM Digital

Sebarkan artikel ini
Foto yang diabadikan pada 30 Juli 2026 ini menunjukkan Badri Munir Sukoco (depan, kedua dari kiri), sekretaris jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (RI), dan para pejabat serta hadirin lainnya berfoto bersama dalam Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN (China-ASEAN Education Cooperation Week) 2026 di Guiyang, ibu kota Provinsi Guizhou, China barat daya. (Xinhua)

GUIYANG, eNewskalteng.com – Pemerintah Indonesia mendorong penguatan kerja sama pendidikan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) antarperguruan tinggi di kawasan ASEAN sebagai langkah membangun ekosistem digital regional yang inklusif. Usulan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI), Badri Munir Sukoco, dalam ajang Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN (China-ASEAN Education Cooperation Week) 2026 yang berlangsung di Kota Guiyang, Provinsi Guizhou, China barat daya. Kegiatan yang mengusung tema “Memanfaatkan Pendidikan Cerdas, Membangun Tanah Air yang Bersahabat” itu mempertemukan lebih dari 450 pejabat pendidikan, akademisi, serta perwakilan industri dari China dan negara-negara ASEAN untuk membahas pemanfaatan AI dalam pengembangan pendidikan.

Foto yang diabadikan pada 6 Juli 2026 ini menunjukkan seorang teknisi sedang mengumpulkan data dari sebuah perangkat kecerdasan buatan berwujud (embodied AI) di Guiyang, ibu kota Provinsi Guizhou, China barat daya. (Xinhua)

Badri mengatakan Indonesia ingin memperdalam kerja sama dengan China dan negara ASEAN lainnya, terutama dalam pengembangan kurikulum AI, peningkatan kapasitas tenaga pengajar, serta pemerataan infrastruktur komputasi digital. Menurutnya, China memiliki pengalaman yang maju dalam membangun ekosistem pendidikan dan industri berbasis AI yang dapat menjadi referensi bagi Indonesia. “Indonesia ingin belajar dari pengalaman China dalam reformasi kurikulum AI, pelatihan guru, serta pengembangan kapasitas komputasi yang dapat menjangkau berbagai wilayah,” ujar Badri.

Ia menambahkan, kerja sama pendidikan AI di tingkat perguruan tinggi juga dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi kesenjangan digital serta menciptakan pengembangan teknologi yang memberikan manfaat bagi masyarakat di kawasan.

Dalam kunjungannya ke Guizhou, Badri mengaku terkesan dengan keberhasilan provinsi tersebut mengembangkan sektor digital dan menjadikannya salah satu pusat mahadata (big data) China, meskipun lokasinya berada jauh dari kawasan pesisir yang selama ini dikenal sebagai pusat industri teknologi. “Saya sedikit terkejut melihat bagaimana Guizhou mampu membangun pusat big data. Ini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi tidak hanya dapat dilakukan di wilayah pesisir, tetapi juga bisa berkembang sesuai karakter daerah masing-masing,” katanya.

Badri menilai pengalaman Guizhou dapat menjadi inspirasi bagi berbagai daerah di Indonesia dalam mengembangkan potensi digital berbasis kondisi lokal. Ia mengakui perkembangan pendidikan digital dan industri AI Indonesia masih perlu ditingkatkan dibandingkan China. Karena itu, kolaborasi dan pertukaran pengalaman menjadi penting untuk mempercepat kemajuan teknologi nasional. Dalam kesempatan tersebut, Badri juga menyoroti pentingnya kerja sama dalam pengembangan berbagai bidang berbasis AI, termasuk pengobatan tradisional, riset material, serta inovasi industri.

Menurutnya, China memiliki rantai industri AI yang kuat, sementara Indonesia memiliki berbagai sumber daya yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi teknologi. “China sudah jauh lebih maju dalam AI, sehingga kami dapat belajar sekaligus berkolaborasi. Kerja sama ini harus menjadi hubungan yang saling melengkapi, bukan hanya satu arah,” jelasnya.

Meski demikian, Badri mengingatkan bahwa AI juga memiliki tantangan, seperti penyalahgunaan teknologi melalui deepfake, disinformasi, maupun pelanggaran privasi digital. Karena itu, ia menilai pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat yang mampu memahami dan menggunakan AI secara bertanggung jawab. “AI adalah sebuah paradoks. Teknologi ini dapat memberikan manfaat besar jika digunakan secara tepat, tetapi juga dapat menimbulkan dampak negatif apabila disalahgunakan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perubahan teknologi menuntut perguruan tinggi untuk melakukan penyesuaian kurikulum dan metode pembelajaran. Menurutnya, pembelajaran tidak lagi hanya bergantung pada buku teks, tetapi harus mampu memanfaatkan teknologi AI sebagai bagian dari proses pendidikan modern. “Guru dan mahasiswa harus memiliki kemampuan beradaptasi. Pelatihan AI penting tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi para dosen,” tambahnya.

Badri berharap Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN dapat menjadi pintu masuk bagi lebih banyak perguruan tinggi Indonesia untuk terlibat dalam kerja sama pendidikan digital dengan China. Ia menyebut sejumlah perguruan tinggi Indonesia akan menjalin kerja sama dengan Universitas Guizhou dan Institut Teknologi Guizhou, mencakup pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, serta penelitian bersama di bidang AI.

Menurutnya, hubungan antara China dan ASEAN dalam bidang AI harus dibangun berdasarkan kepercayaan, kolaborasi, serta pemanfaatan keunggulan masing-masing pihak. China memiliki kekuatan dalam teknologi, algoritma, dan infrastruktur digital, sementara ASEAN memiliki sumber daya alam serta populasi muda yang besar. “Integrasi berbagai keunggulan tersebut dapat menciptakan model pengembangan AI regional yang inklusif dan menjadikan teknologi sebagai jembatan kerja sama antara China dan negara-negara ASEAN,” pungkas Badri.(red)