BeritaPemkab Kotawaringin TimurPendidikan

FKUB Kotim Tegaskan Toleransi Tetap Terjaga Meski Bulan Ramadhan Dan Perayaan Imlek Hampir Bersamaan

22
×

FKUB Kotim Tegaskan Toleransi Tetap Terjaga Meski Bulan Ramadhan Dan Perayaan Imlek Hampir Bersamaan

Sebarkan artikel ini
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Mudlofar.

Kotawaringin Timur, eNewskalteng.com — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menegaskan bahwa kondisi toleransi dan harmonisasi antarumat beragama di wilayah tersebut tetap terjaga dengan baik, meskipun perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili berdekatan dengan awal bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.

Kotawaringin Timur, eNewskalteng.com – Ketua FKUB Kotim, Mudlofar, menyatakan bahwa kehidupan keberagaman di Kotim, khususnya di Kota Sampit, selama ini berlangsung secara guyub, rukun, dan harmonis. Menurutnya, masyarakat telah terbiasa hidup berdampingan dengan saling menghormati keyakinan masing-masing. “Kita saling menghormati dan saling menghargai, karena masing-masing punya keyakinan. Yang terpenting adalah saling menjaga,” ujarnya, Minggu (8/2/2026).

Mudlofar menjelaskan, komunikasi lintas agama di Kotim berjalan dengan baik dan aktif. Hingga saat ini, FKUB belum menemukan persoalan mendasar yang berpotensi mengganggu kerukunan umat beragama. Justru, kata dia, keakraban antartokoh agama terus terjalin melalui komunikasi dan saling berbagi informasi. “Alhamdulillah, selama ini harmonisasi di Kotim terjaga dengan bagus. Belum ada persoalan mendasar, yang ada justru keakraban antartokoh agama. Itu yang terus kami rawat melalui FKUB,” katanya.

Terkait berdekatan­nya perayaan Imlek dengan Ramadan, Mudlofar menegaskan bahwa tidak diperlukan pengamanan atau perlakuan khusus. Menurutnya, toleransi sudah tumbuh secara alami di tengah masyarakat dan berjalan tanpa hambatan. “Tidak ada penjagaan khusus, tidak perlu. Itu sudah berjalan secara alami dan kondusif,” tegasnya.

Ia menambahkan, hubungan FKUB dengan komunitas umat Buddha, Konghucu, Hindu, serta agama lainnya juga terjalin dengan baik. Bahkan, dalam kegiatan seremonial keagamaan, antartokoh lintas iman kerap saling mengundang sebagai bentuk penghormatan, meski tetap menjaga batasan ritual masing-masing. “Kalau ritual tentu terpisah, tetapi secara seremonial kami saling hadir. Itu bentuk keakraban dan saling menghormati,” jelasnya.

Mudlofar juga menegaskan bahwa tidak ada persoalan meski puncak perayaan Imlek jatuh berdekatan dengan awal Ramadan, baik versi penetapan pemerintah maupun organisasi keagamaan. “Tidak ada masalah. Kedamaian insya Allah tetap terjaga,” pungkasnya.  (man)