Oleh Prabowo Destyan
JAKARTA, 20 Agustus (Xinhua), eNewskalteng.com — Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI pada Jumat (14/8), menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing sejak usia dini, termasuk bahasa Mandarin. Namun, bagi sebagian masyarakat Indonesia, bahasa Mandarin masih kerap dianggap sebagai bahasa yang sulit dipelajari. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dengan metode yang tepat dan dilakukan secara bertahap, pemula dapat mempelajari bahasa Mandarin dengan lebih nyaman.
Hal itu disampaikan Lukas Ariawan (34), guru bahasa Mandarin yang telah memiliki pengalaman mengajar selama belasan tahun. Kepada Xinhua pada Selasa (18/8), Lukas membagikan sejumlah cara yang dapat diterapkan pemula agar proses belajar Mandarin tidak terasa berat. “Kadang-kadang, yang membuat bahasa Mandarin terasa sulit adalah kesan pertama dan rasa takut sebelum mulai belajar. Padahal, kalau dipelajari secara bertahap, bahasa Mandarin itu cukup sistematis,” ujar Lukas.
Menurut dia, hal pertama yang perlu dibangun pemula bukanlah kemampuan menghafal ribuan kosakata, melainkan pola pikir yang tepat. Bahasa Mandarin tidak harus dikuasai dalam waktu singkat. Pembelajaran dapat dilakukan sedikit demi sedikit sampai pelajar terbiasa dengan bunyi, karakter, dan struktur bahasa yang semula terasa asing. “Yang paling penting adalah berani memulai. Jangan sampai baru belajar beberapa kali sudah takut salah nada, takut salah bicara, atau takut ditertawakan,” kata peraih gelar Master of Teaching Chinese to Speakers of Other Languages (MTCSOL) dari Tianjin University tersebut.
MULAI DARI DASAR
Bagi pemula, terdapat tiga unsur penting yang perlu dikenali ketika mulai belajar bahasa Mandarin, yakni Hanyu Pinyin atau Pinyin, Hanzi, dan nada. Pinyin merupakan sistem romanisasi bahasa Mandarin yang menggunakan huruf Latin untuk membantu merepresentasikan pelafalan. Sementara itu, Hanzi adalah karakter atau aksara yang digunakan dalam bahasa Mandarin. Adapun nada menjadi unsur penting dalam pengucapan karena perubahan nada dapat menyebabkan perubahan arti sebuah kata.
Lukas menyarankan pemula untuk terlebih dahulu membangun fondasi melalui Pinyin dan pelafalan, terutama dengan membiasakan diri membedakan empat nada utama. Meski demikian, tahap tersebut tidak perlu dilakukan terlalu lama sebelum mulai mempraktikkannya dalam kosakata dan percakapan sederhana. Setelah mengenal dasar pelafalan, pembelajar dapat langsung menggunakannya dalam ungkapan sehari-hari. Misalnya, 你好 (nǐ hǎo) yang berarti “halo”, 谢谢 (xièxie) atau “terima kasih”, 我叫…… (wǒ jiào…) yang berarti “nama saya…”, serta 我是印尼人 (wǒ shì Yìnní rén) atau “saya orang Indonesia”.
Keberhasilan mengucapkan satu atau dua kalimat sederhana, menurut Lukas, dapat memberikan dorongan positif bagi pemula. “Perasaan berhasil seperti ini penting sekali untuk membangun kepercayaan diri,” ujar Lukas, alumnus Jurusan Sastra China di Shaoguan University (SGU). Dalam proses belajar, jumlah kosakata yang berhasil dihafalkan bukan menjadi satu-satunya ukuran kemajuan. Bagi pemula, mempelajari sekitar lima hingga 10 kosakata baru setiap hari sudah cukup, selama kata-kata tersebut benar-benar dipahami dan dapat digunakan.
Lukas mencontohkan lima kosakata sederhana, yakni 吃 (chī) atau “makan”, 喝 (hē) atau “minum”, 水 (shuǐ) atau “air”, 茶 (chá) atau “teh”, dan 咖啡 (kāfēi) atau “kopi”. Dari sejumlah kata tersebut, pembelajar sudah dapat menyusun berbagai kalimat sederhana. “Daripada menghafalkan 30 kata hari ini lalu minggu depan lupa semuanya, saya lebih memilih lima kata, tetapi orang tersebut tahu cara mengucapkannya, mengenali Hanzi-nya, mengerti artinya, dan bisa menggunakannya dalam kalimat,” jelasnya.
Berdasarkan pengalamannya mengajar, Lukas mengatakan nada dan Hanzi merupakan dua bagian yang biasanya paling menantang bagi pemula. Nada dapat dilatih melalui kebiasaan mendengarkan dan menirukan pengucapan, sedangkan Hanzi akan lebih mudah dipahami jika pembelajar mulai mengenali radikal, struktur karakter, dan pola yang sering muncul.
Hanzi, lanjutnya, tidak perlu dipandang sebagai sekumpulan garis yang harus dihafalkan satu per satu. Latihan berulang tetap diperlukan, tetapi dapat dilakukan secara bertahap dan konsisten. Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menetapkan target terlalu tinggi dalam waktu singkat. Pemula terkadang ingin segera lancar berbicara, menguasai banyak Hanzi, atau mencapai tingkat tertentu dalam ujian kemampuan bahasa Mandarin.
Ketika target tersebut tidak segera tercapai, semangat belajar justru dapat menurun. “Target yang lebih sederhana justru dapat membantu mempertahankan semangat belajar. Misalnya, bulan pertama menargetkan kemampuan memperkenalkan diri, bulan berikutnya menceritakan keluarga, kemudian belajar memesan makanan. Memiliki target yang realistis akan membuat perkembangan terasa lebih terukur,” ujar Lukas.
MANFAATKAN TEKNOLOGI DIGITAL
Perkembangan teknologi juga membuka banyak pilihan bagi mereka yang ingin belajar bahasa Mandarin. Film, drama China, lagu, gim, media sosial, hingga konten kreator dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar yang lebih menyenangkan. Salah satu metode yang dapat dicoba adalah menonton drama China atau Dracin. Pada tahap awal, pembelajar dapat berfokus mendengarkan percakapan untuk melatih kemampuan menyimak. Selanjutnya, subtitle atau transkrip dapat digunakan untuk mengenali kata dan kalimat yang terdengar.
Dari sana, pembelajar dapat memilih beberapa ungkapan, menirukan pengucapannya, kemudian mencoba menulis atau membuat kalimat baru dengan menggunakan kosakata tersebut. Menurut Lukas, satu kegiatan sederhana seperti menonton drama dapat membantu melatih empat keterampilan sekaligus, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Konten digital juga dapat memberikan gambaran mengenai penggunaan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-hari sekaligus memperkenalkan budaya dan tren masyarakat China.
Pemula, menurut Lukas, tidak perlu memaksakan diri memahami seluruh isi sebuah video. “Kalau dari satu video kita hanya memahami 20-30 persen, tidak masalah. Ambil satu atau dua ungkapan baru saja,” katanya.
Agar kegiatan belajar terasa lebih menyenangkan, pembelajar dapat menghubungkan bahasa Mandarin dengan minat masing-masing. Penggemar musik dapat belajar melalui lagu Mandarin, pencinta drama dapat memanfaatkan Dracin, sedangkan penggemar gim dapat mencari permainan atau komunitas yang menggunakan bahasa Mandarin. Orang yang gemar bepergian ke China juga dapat memulai dari percakapan yang kemungkinan akan digunakan ketika berwisata.
Dengan pendekatan tersebut, bahasa Mandarin tidak lagi terbatas pada buku pelajaran, latihan soal, dan ujian. Bahasa dapat dipelajari melalui berbagai aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Bahasa itu kehidupan. Ada budaya, makanan, musik, film, sejarah, orang-orang, dan pengalaman di dalamnya,” jelas pria yang berdomisili di Semarang tersebut.
Lukas melihat fenomena serupa dalam popularitas K-Pop dan drama Korea. Ketertarikan terhadap musik dan tayangan Korea mendorong sebagian penggemarnya di Indonesia untuk mempelajari bahasa Korea agar dapat memahami lagu, dialog, maupun percakapan idolanya. Menurut dia, pola yang sama dapat diterapkan dalam belajar bahasa Mandarin. Penggemar aktor, aktris, musik, maupun Dracin dapat menjadikan ketertarikan tersebut sebagai pintu masuk untuk mengenal bahasa Mandarin.
Pada akhirnya, belajar Mandarin bukan semata-mata tentang menghafalkan sebanyak mungkin karakter atau mengejar kemampuan berbicara dengan cepat. Yang lebih penting adalah menjadikan bahasa tersebut bagian dari kebiasaan sehari-hari. Mendengarkan lagu Mandarin, menonton drama, membaca subtitle, mengikuti konten digital, menulis satu kalimat mengenai aktivitas harian, atau berbicara sendiri dalam bahasa Mandarin dapat menjadi latihan sederhana. Misalnya, ketika hendak makan, pembelajar dapat membiasakan diri mengatakan 我要吃饭了 (wǒ yào chīfàn le), atau ketika hendak tidur menggunakan ungkapan 我要睡觉了 (wǒ yào shuìjiào le).
Kebiasaan kecil tersebut secara perlahan membantu otak terbiasa dengan pola bahasa Mandarin. “Dengan demikian, perjalanan belajar tidak lagi terasa sebagai kewajiban untuk menaklukkan bahasa yang dianggap sulit. Mandarin justru dapat tumbuh perlahan dari sesuatu yang dipelajari menjadi sesuatu yang digunakan dan dinikmati setiap hari,” papar Lukas.
SEDIKIT DEMI SEDIKIT
Menjaga motivasi merupakan bagian penting lainnya dalam mempelajari bahasa Mandarin. Perkembangan kemampuan berbahasa terkadang tidak terasa apabila hanya dibandingkan dari satu hari ke hari berikutnya. Lukas mengibaratkannya seperti gelas yang diisi dengan tetesan air. Pada awalnya, setiap tetes terlihat menambah isi gelas. Namun, setelah air semakin banyak, tambahan satu atau dua tetes mungkin tidak lagi terlihat. Meski demikian, jumlah air tetap bertambah. “Begitu pula proses belajar bahasa Mandarin, perkembangan mungkin tidak selalu terasa setiap hari, tetapi konsistensi akan memberikan perubahan dalam jangka panjang,” ujar Lukas, yang kini juga menjadi instruktur bagi para guru Mandarin junior.
Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda. Karena itu, pembelajar sebaiknya tidak terlalu sering membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Salah satu cara untuk melihat perkembangan adalah membuka kembali catatan lama, rekaman suara, atau latihan yang sebelumnya dianggap sulit. Dari sana, pembelajar dapat melihat sejauh mana kemampuan mereka telah berkembang. “Salah satu cara untuk melihat perkembangan adalah membuka kembali catatan lama, rekaman suara, atau latihan yang dahulu terasa sulit. Dari sana, tiap orang mungkin akan menyadari bahwa mereka nyatanya telah berkembang cukup jauh, sehingga dapat menghargai kemajuannya dan semakin termotivasi untuk terus belajar,” tutup Lukas.(red)












