JAKARTA, 15 Oktober (Xinhua), eNewskalteng.com — Indonesia dan Tiongkok mempercepat kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan teknis dan vokasi (TVET) agar selaras dengan tujuan pembangunan nasional Indonesia serta meningkatnya permintaan di sektor industri. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Republik Indonesia (RI) Brian Yuliarto dalam wawancara dengan Xinhua pada Selasa (13/10).
Kolaborasi antara institusi dari kedua negara berkembang pesat, menyediakan pengembangan kapasitas yang terarah bagi para mahasiswa Indonesia, kata Brian. “Beberapa perguruan tinggi vokasi kami menjalin kerja sama yang erat, baik dengan industri maupun dengan universitas-universitas di Tiongkok,” ungkapnya, seraya menambahkan bahwa sinergi ini memungkinkan mahasiswa memperoleh pelatihan yang disesuaikan dengan tolok ukur internasional.
Penyelarasan antara pendidikan dan industri ini secara langsung mendukung agenda nasional Asta Cita (Delapan Tujuan) yang dirumuskan oleh Presiden RI Prabowo Subianto, yang memprioritaskan ketahanan pangan, ketahanan energi, elektronik, semikonduktor, dan hilirisasi mineral.
Seiring dengan meningkatnya kehadiran perusahaan-perusahaan Tiongkok di Indonesia, negara ini berharap industri-industri tersebut dapat secara aktif mempekerjakan para lulusan dari lembaga pendidikan vokasi setempat, ujarnya. Membahas Konferensi Pengembangan Pendidikan Vokasi dan Teknik Dunia (World Vocational and Technical Education Development Conference) 2026 yang dijadwalkan dibuka pada Kamis (15/10) di Tianjin, Tiongkok, Brian mengatakan Indonesia berupaya memperluas kemitraan antarlembaga serta meningkatkan kapasitas peserta didik agar memenuhi standar industri Tiongkok. “Ketika kita memenuhi standar Tiongkok, tentu saja kita dapat memenuhi standar dunia,” kata Brian, seraya menyoroti jangkauan global industri-industri Tiongkok.
Menanggapi pesatnya perkembangan teknologi global, seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, pembelajaran mesin, dan energi hijau, Brian menyoroti peran utama Tiongkok sebagai salah satu pemimpin dalam pengembangan teknologi, seraya menambahkan bahwa kemitraan dengan institusi Tiongkok membantu Indonesia menyesuaikan sistem pendidikannya dengan tren global yang berubah dengan cepat.
Perusahaan-perusahaan Tiongkok telah mendukung universitas-universitas Indonesia dengan menyumbangkan peralatan canggih dan membangun laboratorium bersama. Ke depannya, Indonesia berencana untuk memperluas program gelar ganda (double degree), pertukaran mahasiswa dan dosen, serta program profesor tamu, ujarnya.
Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, pembangunan ekonomi berkualitas tinggi harus bertumpu pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Menggabungkan sumber daya alam dan jumlah penduduk Indonesia yang besar dengan keahlian teknologi Tiongkok menawarkan landasan yang kokoh bagi kemajuan industri bersama, yang dimulai dari penelitian di tingkat universitas, kata Brian.(red)












