Kotawaringin Timur, eNewskalteng.com – Dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sudah mulai mengkhawatirkan. Kondisi tersebut dipengaruhi dengan semakin meningkatnya kebakaran khususnya di lahan gambut, hingga berdampak terhadap kualitas udara yang memburuk.
Pernyataan tersebut diungkapkan Wakil Komandan Harian 3 Posko Karhutla dan Kekeringan Kabupaten Kotawaringin Timur, Rihel Magat. Menurutnya, indeks kualitas udara (AQI) saat ini telah mencapai pada angka 159, yang menunjukkan kondisi udara sudah berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok tertentu. “Apabila kondisi seperti ini terus berlanjut, perlu dipikirkan kemungkinan penyesuaian jam masuk sekolah. Selain itu, sektor kesehatan juga dapat menyiapkan pembagian masker kepada masyarakat,” ujarnya, Senin (3/8/2026).
Rihel mengungkapkan, hal tersebut dipengaruhi oleh banyaknya lahan gambut yang masih terbakar. Hingga saat ini jumlah hotspot di Kotim telah menembus lebih dari 500 titik, meningkat dibanding sebelumnya yang berada di kisaran 460 titik. Tidak hanya itu, jumlah kejadian kebakaran juga mengalami peningkatan hingga mencapai sekitar 529 kejadian. Pada hari sebelumnya, Satgas mencatat terdapat 14 hotspot yang tersebar di sejumlah lokasi.
Rihel menambahkan, sebelumnya di wilayah Ujung Pandaran juga terjadi kebakaran sekitar delapan hectare. Namun kini sudah tidak lagi menunjukkan hotspot, menandakan sumber panas berhasil dipadamkan. Meski demikian, titik api berulang masih terjadi di kawasan Jalan Cilik Riwut Kilometer 7 yang telah beberapa kali kembali mengeluarkan asap. “Kebakaran lahan gambut di kilometer 7 cukup membahayakan karena asap membuat jalan menjadi gelap dan mengurangi jarak pandang pengendara. Kebakaran juga meluas hingga Kilometer 12 dan 13, dengan lokasi api berada lebih dari 100 meter dari badan jalan dan berada di lahan gambut yang cukup dalam,” pungkasnya. (man)












