Katingan. eNewskalteng.com — Sungai Katingan tak hanya membawa air, tetapi juga membawa cerita. Di balik riak-riaknya yang tua, mengalir jejak sejarah kepemimpinan lokal yang telah mengakar lebih dari satu abad lamanya. Di sini, di tanah-tanah subur Kasongan hingga Tumbang Sanamang, nama Demang Anoem Tjakra Dalam tak pernah benar-benar hilang. Ia bukan hanya sosok dalam dokumen kolonial. Ia adalah leluhur, cermin kebijaksanaan, dan awal dari garis darah yang menumbuhkan banyak pemimpin di tanah Katingan.
Pada tanggal 10 Januari 1895, sebuah besluit keputusan resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. dikeluarkan. Di atas kertas itu, tertulis pengangkatan Demang Anoem Tjakra Dalam sebagai Districtshoofd van Mandawai, wilayah yang kala itu berada di bawah Afdeeling Sampit, Residen Zuider en Oosterafdeeling van Borneo.
Tapi keputusan itu lebih dari sekadar jabatan kolonial. Ia menjadi tonggak lahirnya pemimpin adat lokal yang menjadi jembatan antara rakyat dan kekuasaan, antara budaya dan modernitas. Ia menjadi simbol bahwa di tengah tekanan kekuasaan asing, ada putra daerah yang berdiri menjaga marwah tanahnya.
Lalu lintas waktu pun bergulir. Masa kolonial telah lama pergi, tetapi garis keturunan Demang tetap hidup. Bahkan, bukan sembarang hidup mereka tumbuh menjadi sosok-sosok penting di wilayah Katingan.
Di Kasongan, Pendahara, Tewang Rangkang, Tewang Papari, Hampalam, hingga ke jantung Katingan Tengah dan Katingan Hulu, mereka hadir dalam beragam rupa. Ada G. Obos, Ambo Soeling, Seth Soeling, Yuda Lampe, dan (Alm.) Drs. Godhart Nion. Ada juga Drs. Dj. Nihin, Rentas Anggen, Empas S. Umar, Drs. Marjaki Djimat, hingga Drs. Deddy Ferras, M.Si, yang kini mengemban amanah sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Katingan. Mereka tidak membawa tongkat komando seperti dulu, tetapi membawa ilmu, pengalaman, dan etos kerja yang berakar dari nilai-nilai luhur para pendahulu.
Keturunan Demang bukan hanya soal silsilah, tetapi tentang bagaimana warisan itu diterjemahkan dalam tindakan. Dari cara memimpin rapat, menata pembangunan, hingga menyapa rakyat di pelosok, mereka membawa nilai-nilai lokal: aruh (hormat), rundingan (musyawarah), dan pantang lalai (tanggung jawab). Di balik nama besar mereka, tersemat tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan dan adat, antara pembangunan dan kearifan.
Kabupaten Katingan bukan sekadar peta administratif. Ia adalah rumah bagi sejarah panjang yang masih berdetak di dada masyarakatnya. Dan kisah Demang Anoem Tjakra Dalam adalah pengingat bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari suara terbanyak, tapi dari akar yang kuat dan niat yang jernih. Kini, saat generasi muda mencari jati diri, barangkali perlu menoleh kembali ke hulu. Ke tempat di mana kepemimpinan bukan perkara kekuasaan, tapi perkara pengabdian. Dan darah Demang itu—ya, masih mengalir, dalam diam yang penuh makna.(Penulis Dani Y.)














