BeritaNasional

PLTS Karawang Perkuat Transisi Energi Hijau Indonesia Lewat Transfer Teknologi

3
×

PLTS Karawang Perkuat Transisi Energi Hijau Indonesia Lewat Transfer Teknologi

Sebarkan artikel ini
Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 14 Oktober 2026 ini menunjukkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 MW Karawang di Kawasan Industri Kota Bukit Indah, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. (Xinhua/Veri Sanovri)

PURWAKARTA, eNewskalteng.com – Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Karawang berkapasitas 100 megawatt peak (MWp) di Kawasan Industri Kota Bukit Indah, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjadi salah satu upaya mendukung transisi energi bersih di Indonesia. Selain memasok listrik bagi kawasan industri, proyek yang dibangun PowerChina Hubei tersebut turut mendorong transfer teknologi dan peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal.

Foto yang diabadikan pada 14 Oktober 2026 ini menunjukkan para teknisi bekerja di lokasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 MW Karawang di Kawasan Industri Kota Bukit Indah, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. (Xinhua/Veri Sanovri)

PLTS berbasis darat itu mulai terhubung ke jaringan listrik pada Juli 2024 dan resmi beroperasi pada Agustus 2024. Sejak saat itu, pembangkit beroperasi secara stabil dengan dukungan pekerja lokal yang memperoleh pengalaman teknis selama proses pembangunan hingga pengoperasian.

Salah satunya Salas Panji (25), operator pembangkit yang memiliki latar belakang pendidikan teknik elektro. Selama dua tahun bekerja, ia bertugas mencatat produksi listrik serta memantau kondisi peralatan, termasuk transformator, inverter, dan sistem kendali serta akuisisi data (SCADA). Salas mengaku kemampuannya dalam mengoperasikan sistem pembangkit terus berkembang berkat pelatihan dan praktik langsung di lapangan. Ia pun berkeinginan mempelajari pemrograman sistem agar dapat meningkatkan kompetensinya. Pengalaman tersebut mencerminkan manfaat transfer pengetahuan dalam pengembangan energi terbarukan, terutama bagi tenaga kerja Indonesia yang terlibat langsung dalam operasional pembangkit.

Manajer proyek PowerChina Hubei, Yang Xiaopei, menjelaskan bahwa pembangunan PLTS berskala besar di Indonesia sebelumnya menghadapi keterbatasan tenaga kerja terampil dan subkontraktor berpengalaman. Untuk mengatasi tantangan itu, tim proyek mendatangkan tenaga ahli dari Tiongkok guna memberikan pelatihan kepada pekerja lokal. Melalui pendampingan dan praktik pemasangan di lapangan, lebih dari 300 pekerja lokal berhasil dilatih menjadi tenaga pemasang panel surya. Produktivitas pemasangan bahkan mencapai 2,5 MW per hari pada tingkat tertinggi.

Teknisi asal Bandung, Helmi Faisal Kamil, mengatakan proyek tersebut mencakup area sekitar 80 hektare, dengan kapasitas terpasang arus searah (DC) yang direncanakan mencapai 100,78 MW. Pembangkit ini terdiri atas lima blok lahan dan 24 unit pembangkit. Listrik yang dihasilkan kemudian disalurkan kepada pengelola kawasan industri untuk didistribusikan ke pabrik-pabrik, sehingga mendukung kebutuhan energi bersih bagi kegiatan industri. Selain membantu penyediaan listrik rendah emisi, proyek tersebut juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Muhamad Heivenly, supervisor keselamatan dari perusahaan Indonesia yang terlibat dalam proyek, mengatakan para teknisi dan manajer Tiongkok turut membagikan pengetahuan serta pengalaman kepada pekerja lokal.

Heivenly yang masih bertugas dalam bidang manajemen keselamatan menjelaskan bahwa pekerjaannya mencakup penyampaian prosedur kerja, identifikasi potensi bahaya, dan pemeriksaan penerapan standar keselamatan. Menurutnya, pada puncak pembangunan, proyek PLTS tersebut mempekerjakan sekitar 800 hingga 1.000 orang. Setelah konstruksi selesai, jumlah tenaga kerja berkurang, tetapi kegiatan pengoperasian, pemeriksaan, dan pemeliharaan pembangkit tetap memberikan peluang kerja bagi masyarakat setempat. Heivenly berharap pengembangan energi surya terus diperluas untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap batu bara dan sumber energi konvensional lainnya.

Melalui pengembangan PLTS dan pertukaran keahlian lintas negara, proyek Karawang tidak hanya menghadirkan pasokan listrik bersih bagi sektor industri, tetapi juga mendukung peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu langkah dalam memperkuat pemanfaatan energi terbarukan dan mempercepat transisi hijau Indonesia.(red)