JAKARTA, Xinhua, eNewskalteng.com – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) generatif telah membawa perubahan besar dalam dunia seni rupa. Teknologi ini mampu menghasilkan ilustrasi, foto, hingga desain grafis dalam hitungan detik. Namun, kemajuan tersebut juga memunculkan perdebatan mengenai orisinalitas, nilai karya, serta masa depan kreativitas manusia.

Di tingkat global, karya seni berbasis AI bahkan telah terjual dengan harga tinggi di balai lelang. Karya robot Ai-Da laku 1,08 juta dolar AS di Sotheby’s pada 2024, sedangkan Portrait of Edmond Belamy terjual 432.500 dolar AS di Christie’s pada Oktober 2018. Untuk memahami perkembangan tersebut di Indonesia, Xinhua berbincang dengan kolektor seni Wiyu Wahono, perupa kontemporer Vonny Ratna Indah, dan pekerja kreatif digital Eunike Kartini. Ketiganya memiliki pandangan berbeda mengenai pemanfaatan AI, tetapi sepakat bahwa teknologi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi dunia seni.
AI Bukan Sekadar Alat Pembuat Gambar
Wiyu Wahono, kolektor seni sejak 1999 yang telah lima tahun mengoleksi karya berbasis AI, menilai karya seni yang baik harus mampu merefleksikan zamannya. Menurutnya, perkembangan AI dan sains merupakan bagian dari perubahan besar dalam sejarah manusia. Ia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi tidak serta-merta menjadikan seseorang seniman. Menekan tombol kamera tidak otomatis membuat seseorang menjadi seniman fotografi, sebagaimana memberikan perintah atau prompt kepada AI untuk menghasilkan gambar juga tidak langsung menjadikan seseorang seniman AI.
Menurut Wiyu, karya yang dihasilkan melalui generator gambar seperti Midjourney, Adobe Firefly, dan Canva tidak otomatis dapat dikategorikan sebagai karya seni. Diperlukan pemikiran artistik dan estetika untuk menentukan nilai sebuah karya. Ia juga menilai teori seni yang selama ini berkembang perlu dikaji kembali untuk memahami karya berbasis AI, mengingat teknologi tersebut tidak memiliki tubuh, usia, maupun kesadaran seperti manusia. Wiyu mencontohkan seniman Sougwen Chung, yang melatih robot berbasis AI untuk melukis di atas kanvas. Hasilnya dapat menyerupai karakter lukisan yang dibuat langsung oleh sang seniman.
Atas dasar itu, Wiyu mengoleksi karya AI secara bertahap, mulai dari karya yang relatif terjangkau hingga karya bernilai tinggi. Baginya, karya berbasis AI memiliki beragam bentuk, mulai dari gambar yang dihasilkan melalui prompt, karya yang menggabungkan teknologi dan sentuhan manusia, hingga karya yang dibuat oleh sistem AI otonom tanpa perintah langsung manusia.
AI Membantu Proses Kreatif, tetapi Menimbulkan Kekhawatiran
Dari sudut pandang perupa, Vonny Ratna Indah mengakui AI dapat membantu proses kreatif, terutama untuk membuat sketsa awal yang dipresentasikan kepada klien. Meski hasilnya cukup mendekati konsep yang diinginkan, ia tetap melakukan penyempurnaan sebelum menghasilkan karya akhir. Vonny menegaskan bahwa hasil AI masih memerlukan sentuhan pikiran dan tangan seniman. Karena itu, ia memandang teknologi tersebut sebagai alat bantu, bukan pengganti keseluruhan proses berkarya. Berbeda dengan pandangan tersebut, Wiyu menilai potensi AI tidak seharusnya terbatas pada fungsi pendukung. Ia mendorong seniman untuk menjadikan teknologi itu sebagai kolaborator aktif dalam menghasilkan karya baru.
Sementara itu, Eunike Kartini, yang menggunakan AI untuk membantu manajemen proyek, riset, dan penulisan konten, mengambil sikap lebih berhati-hati. Menurutnya, karya yang sepenuhnya dihasilkan melalui prompt tanpa keterlibatan proses keterampilan fisik masih terasa kurang autentik. Ia lebih dapat menerima karya yang memadukan AI dengan proses manual, seperti pencetakan tiga dimensi, karena pembuatnya tetap harus mempertimbangkan ukuran, material, bentuk, dan penyempurnaan hasil. Eunike mengaku lebih menghargai karya yang dibuat langsung oleh manusia. Baginya, proses penciptaan menjadi bagian penting dari nilai sebuah karya, bukan hanya hasil akhirnya.
Orisinalitas, Hak Cipta, dan Dampak Ekonomi
Perbedaan pandangan mengenai AI juga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap perubahan dalam industri seni. Wiyu menilai ketakutan terhadap teknologi baru, hilangnya kendali, serta kesalahpahaman mengenai cara kerja AI menjadi sejumlah alasan sebagian seniman dan kolektor menolak karya berbasis teknologi tersebut.
Vonny berpendapat bahwa kekhawatiran itu dapat diatasi melalui aturan dan kesepakatan yang jelas. Berdasarkan pengalamannya, penggunaan AI sejauh ini belum memberikan dampak negatif yang nyata terhadap minat kolektor maupun harga lukisan. Ia bahkan merasakan manfaat teknis dari teknologi tersebut. Meski demikian, Wiyu mengakui bahwa kolektor di Indonesia yang tertarik membeli karya seni berbasis AI masih terbatas. Eunike sendiri belum berminat mengoleksi karya yang melibatkan AI, sekalipun kontribusinya relatif kecil. Ia menilai pengalaman, pemikiran, dan keterampilan tangan seniman menjadi unsur yang memberikan kehidupan pada sebuah karya.
Vonny juga menekankan pentingnya pelabelan yang menjelaskan penggunaan AI dalam proses penciptaan seni. Ia menilai pelatihan sistem AI menggunakan karya seniman tanpa izin merupakan tindakan yang tidak etis. Di sisi lain, Wiyu melihat batas orisinalitas semakin kompleks karena proses penciptaan seni modern juga melibatkan teknologi digital, mesin pencari, dan media sosial sebagai sumber informasi maupun inspirasi. Dalam memastikan keaslian karya AI yang dikoleksinya, Wiyu memanfaatkan sertifikat berbasis tokenisasi blockchain. Namun, ia mengakui bahwa mekanisme tersebut tidak menjamin karya sepenuhnya terbebas dari pemalsuan atau pelanggaran hak cipta, meskipun catatan transaksi dapat ditelusuri dan sulit dipalsukan.
Masa Depan Seni Tetap Membutuhkan Karakter Manusia
Meski memiliki pandangan berbeda, Wiyu dan Vonny meyakini karya yang dibuat manusia akan tetap bertahan di tengah perkembangan teknologi. Wiyu mengibaratkannya dengan produk kerajinan yang tetap memiliki tempat di tengah maraknya produksi massal. Vonny menilai goresan, tekstur, waktu pengerjaan, dan karakter pribadi seniman masih menjadi bagian penting dari nilai sebuah lukisan. Ia mengingatkan para perupa muda agar tidak terlalu bergantung pada AI hingga kehilangan ciri khas, karena karya yang seragam akan sulit menonjol.
Sementara itu, Eunike memperkirakan penggunaan AI akan semakin luas dalam seni terapan, terutama desain produk, arsitektur, dan pemodelan dasar untuk sejumlah karya kriya. Untuk seni murni, ia melihat peluang AI lebih besar dalam memperluas akses masyarakat terhadap karya seni. Pameran digital dan galeri daring, misalnya, dapat memungkinkan masyarakat dari berbagai negara menikmati atau membeli karya tanpa harus mengunjungi galeri secara langsung.
Menurut Eunike, pemanfaatan AI untuk memperluas akses tersebut tetap perlu memperhatikan keaslian karya dan proses penciptaannya. Ketika berbicara mengenai perkembangan seni rupa dalam sepuluh tahun mendatang, Wiyu mengaku sulit membuat prediksi karena kemajuan teknologi berlangsung sangat cepat. Vonny, di sisi lain, membayangkan dunia seni yang semakin terbuka dan terhubung dengan berbagai bidang ilmu. Ia menilai seniman perlu terus mengembangkan karakter dan keunikan dalam setiap karya agar tetap relevan sekaligus terlindungi di tengah kemajuan teknologi. Perkembangan AI pada akhirnya membuka ruang baru bagi dunia seni rupa Indonesia. Namun, persoalan mengenai orisinalitas, etika, hak cipta, dan nilai kreativitas manusia akan tetap menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan pada masa depan.(red)












