BeritaNasional

Kerja Sama Penerbitan Tiongkok-Indonesia Makin Luas, Buku Mandarin Kian Diminati

1
×

Kerja Sama Penerbitan Tiongkok-Indonesia Makin Luas, Buku Mandarin Kian Diminati

Sebarkan artikel ini
Foto yang diabadikan pada 30 September 2026 ini memperlihatkan upacara pembukaan Indonesia International Book Fair 2026 di Jakarta. (Xinhua/Cheng Yiheng)

JAKARTA, 3 Oktober (Xinhua), eNewskalteng.com — Hubungan industri perbukuan antara Tiongkok dan Indonesia terus berkembang. Kerja sama yang terjalin kini tidak hanya mencakup penjualan buku, tetapi juga mulai merambah lisensi hak cipta, adaptasi konten, hingga peluang produksi bersama. Perkembangan tersebut terlihat dalam ajang Indonesia International Book Fair 2026. Salah satu penerbit Indonesia, Gema Insani, tengah menjajaki kerja sama dengan penerbit Tiongkok Beijiao Tongqu untuk memperoleh hak penerbitan sejumlah buku sains anak, termasuk karya yang mengangkat tema astronaut dan dilengkapi fitur interaktif.

Elvina, seorang mahasiswi Jakarta, membaca buku berbahasa Mandarin dalam ajang Indonesia International Book Fair 2026 di Jakarta pada 30 September 2026. (Xinhua/Agung Kuncahya B.)

Ecky, manajer pemasaran dan hak cipta Gema Insani, mengatakan pembicaraan dengan pihak Beijiao Tongqu telah berlangsung dalam beberapa pertemuan, termasuk di Shanghai dan Kuala Lumpur, sebelum dilanjutkan di Jakarta. “Saat ini kami dalam tahap finalisasi. Ada beberapa judul yang kami minati untuk diterbitkan di Indonesia, khususnya buku anak-anak,” ujar Ecky kepada Xinhua.

Menurut dia, Gema Insani tertarik pada berbagai fitur interaktif dalam buku-buku tersebut yang belum banyak ditemukan pada produk sejenis di Indonesia. Fitur itu antara lain mekanisme buka-tutup, elemen tiga dimensi, bagian yang dapat digeser, hingga komponen berbahan tali. Selain inovasi konten, kemampuan industri percetakan Tiongkok juga dinilai menawarkan keuntungan dari sisi biaya. Karena itu, kedua pihak masih membahas pilihan lokasi produksi, apakah buku akan dicetak di Indonesia atau Tiongkok. “Tiongkok memiliki banyak inovasi yang bagus. Dan kami sedang berupaya membeli hak ciptanya,” kata Ecky.

Ia menilai forum perbukuan internasional seperti Indonesia International Book Fair juga membuka peluang bagi penerbit Indonesia untuk menjalin hubungan dengan mitra asing sekaligus memperkenalkan karya lokal ke pasar internasional. Di sisi lain, ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap buku berbahasa Mandarin turut menunjukkan perkembangan. Elvina, seorang mahasiswi di Jakarta yang telah mempelajari bahasa Mandarin sejak SMA, datang ke pameran untuk mencari buku fiksi berbahasa Mandarin dan berbagai bahan bacaan lainnya. “Saya sebenarnya sangat senang karena akhirnya saya bisa memiliki akses untuk membeli dan melihat lebih banyak buku berbahasa Mandarin,” ujar Elvina.

Ia mengatakan buku berbahasa Mandarin tidak hanya membantunya berlatih bahasa, tetapi juga menarik untuk dikoleksi dan dinikmati dari sisi sastra maupun visual. Menurutnya, sejumlah buku dari Tiongkok memiliki ilustrasi yang beragam serta penggunaan warna yang lebih cerah.

Sementara itu, penerbit Tiongkok terus memperluas kerja sama dengan mitra lokal di Indonesia. Chen Changhai, manajer umum Beijiao Children Joy Education & Technology, mengatakan perusahaannya telah hadir di pasar Indonesia selama beberapa tahun dan telah memperkenalkan lebih dari 400 judul buku anak-anak baru. “Kami melihat pasar penerbitan Indonesia, khususnya penerbitan buku anak-anak, memiliki potensi besar dan perkembangannya sangat dinamis,” kata Chen.

Ia menambahkan bahwa bentuk kerja sama dengan penerbit Indonesia kini mulai berkembang. Jika sebelumnya lebih banyak berfokus pada transaksi hak cipta, kerja sama tersebut mulai mengarah pada penelitian dan pengembangan bersama. Perkembangan itu dinilai menjadi peluang bagi industri perbukuan kedua negara untuk menghasilkan serta memperkenalkan konten lintas negara, sekaligus mempererat hubungan penerbitan Tiongkok dan Indonesia.(red)