JAKARTA, 3 September (Xinhua) — Bank of China (Hong Kong) Limited atau BOC Hong Kong Cabang Jakarta terus memperkuat pengembangan ekosistem Renminbi (RMB) di Indonesia seiring meningkatnya aktivitas perdagangan, investasi, dan konektivitas keuangan antara Indonesia dan Tiongkok. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui forum antarbank bertajuk “Membangun Ekosistem Renminbi Bersama – Memperdalam Kliring RMB, Konektivitas Lintas Perbatasan, serta Pasar Valuta Asing dan Pasar Uang” yang digelar di Jakarta pada 2 September 2026.
Forum tersebut mempertemukan lebih dari 100 peserta dari berbagai lembaga, antara lain Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia, UnionPay International, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), serta 45 bank. Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk membahas perkembangan penggunaan RMB di Indonesia sekaligus menggali peluang pengembangannya, mulai dari kliring dan pembayaran lintas negara hingga pengelolaan likuiditas dan penguatan konektivitas pasar keuangan.
Dalam forum itu, BOC Hong Kong Cabang Jakarta memaparkan perkembangan pasar RMB, termasuk peluang pembiayaan dan investasi pada obligasi berdenominasi RMB. Bank tersebut juga menjelaskan mekanisme kliring RMB lintas perbatasan serta ketentuan dan prosedur operasional sebagai RMB Clearing Bank di Indonesia. Pembahasan turut mencakup perkembangan pasar RMB/IDR, mekanisme pembayaran lintas negara, dan penguatan infrastruktur yang diperlukan agar transaksi berbasis RMB dapat berlangsung secara lebih efisien.
Bank Indonesia dalam kesempatan tersebut menjelaskan arah pengembangan ekosistem pasar RMB melalui kerangka 3P+I, yakni produk (product), harga (pricing), peserta (participant), dan infrastruktur (infrastructure). Kerangka tersebut antara lain diarahkan untuk memperluas produk valuta asing dan pasar uang berbasis RMB, mengembangkan instrumen pendapatan tetap (fixed income) dalam RMB, serta mendorong bank ACCD (Appointed Cross Currency Dealer) menyediakan kuotasi langsung RMB/IDR.
Dari sisi infrastruktur, konektivitas antara CIPS, CFETS, dan BI-RTGS juga terus diperkuat guna meningkatkan efisiensi transaksi sekaligus mendukung perkembangan pasar RMB di Indonesia. Bank Indonesia juga menekankan pentingnya mempererat koordinasi dengan People’s Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA), terutama dalam mendukung penggunaan RMB serta pengelolaan likuiditas mata uang tersebut di pasar domestik.
Perkembangan ini sejalan dengan semakin meningkatnya transaksi Local Currency Transaction (LCT) antara Indonesia dan Tiongkok. Penggunaan RMB di Indonesia kini tidak hanya mencakup penyelesaian perdagangan, tetapi juga mulai berkembang dalam pembayaran, kliring, pengelolaan likuiditas, serta aktivitas di pasar keuangan.
Penguatan kerangka RMB memperoleh momentum baru setelah Bank Indonesia dan PBOC menandatangani Nota Kesepahaman mengenai pembentukan pengaturan kliring RMB di Indonesia pada 11 Juni 2026. Selanjutnya, pada 26 Juni 2026, BOC Hong Kong Cabang Jakarta memperoleh otorisasi untuk ditunjuk sebagai RMB Clearing Bank di Indonesia. Bank Indonesia kemudian menyempurnakan ketentuan mengenai RMB Clearing Bank pada Agustus 2026 sebagai bagian dari penguatan regulasi dan infrastruktur ekosistem RMB.
Perluas Layanan Berbasis RMB
BOC Hong Kong Cabang Jakarta telah mengembangkan bisnis RMB di Indonesia selama bertahun-tahun dan menjadi salah satu penyedia layanan RMB sekaligus kanal kliring RMB di pasar domestik. Bank tersebut juga menjalankan peran sebagai primary dealer di pasar uang dan valuta asing Indonesia. Dalam mendukung transaksi LCT, BOC Hong Kong Cabang Jakarta menyediakan kuotasi langsung dua arah RMB/IDR serta likuiditas RMB. Layanan tersebut kemudian diperluas melalui pembiayaan lintas negara berbasis RMB dan berbagai layanan pasar modal. Dukungan Bank of China terhadap pengembangan pasar pembiayaan berbasis RMB juga terlihat dari keterlibatannya dalam sejumlah penerbitan obligasi Pemerintah Indonesia.
Pada Oktober 2025, Bank of China membantu Pemerintah Indonesia menerbitkan perdana Dim Sum Bond senilai RMB6 miliar di Hong Kong. Dukungan kembali diberikan pada Februari 2026 melalui penerbitan obligasi dalam dua mata uang senilai RMB9,25 miliar dan 2,7 miliar euro, dengan nilai keseluruhan setara sekitar RMB31,1 miliar. Kemudian pada Juli 2026, Bank of China mendukung penerbitan perdana Panda Bond Pemerintah Indonesia senilai RMB7 miliar. Penerbitan tersebut membuka akses lebih luas bagi pemerintah Indonesia terhadap pasar modal berbasis RMB di Tiongkok dan menjadi penerbitan tunggal terbesar untuk Panda Bond negara.
Perkuat Konektivitas Keuangan
Ke depan, BOC Hong Kong Cabang Jakarta berkomitmen memperkuat perannya sebagai RMB Clearing Bank melalui kerja sama dengan Bank Indonesia, OJK, Kementerian Keuangan, lembaga infrastruktur pasar keuangan, dan sektor perbankan. Pengembangan layanan akan diarahkan untuk membangun ekosistem RMB yang semakin terintegrasi, mulai dari kliring, pembayaran, pembiayaan, investasi hingga pengelolaan likuiditas. Penguatan ekosistem tersebut diharapkan membuat layanan RMB semakin efisien dan mudah diakses oleh pelaku pasar. Pada saat yang sama, langkah ini dapat mendukung peningkatan perdagangan dan investasi Indonesia-Tiongkok serta mempererat konektivitas pasar keuangan kedua negara.(red)












