BeritaNasional

Mahasiswa ITB Perdalam Teknik Kimia Hijau dalam Program Musim Panas di Tiongkok

63
×

Mahasiswa ITB Perdalam Teknik Kimia Hijau dalam Program Musim Panas di Tiongkok

Sebarkan artikel ini
Foto yang diabadikan pada 3 Juli 2026 ini menunjukkan para mahasiswa ITB Indonesia sedang mengikuti perlombaan teknologi Chem-E-Car di Universitas Tianjin, Kota Tianjin, Tiongkok utara. (Xinhua)

TIANJIN, 25 Agustus (Xinhua), eNewskalteng.com – Upaya memperkuat kerja sama pendidikan dan pengembangan teknologi ramah lingkungan mempertemukan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan akademisi Universitas Tianjin di Tiongkok.

Foto yang diabadikan pada 8 Juli 2026 ini menunjukkan para mahasiswa ITB Indonesia berfoto bersama di kampus Universitas Tianjin, Kota Tianjin, Tiongkok utara. (Xinhua)

Sebanyak 26 anggota fakultas dan mahasiswa ITB baru-baru ini mengikuti International Summer Camp on Chemical Engineering for a Sustainable Future selama dua pekan di Universitas Tianjin. Program tersebut memberikan kesempatan kepada peserta Indonesia untuk mempelajari perkembangan terbaru teknik kimia sekaligus melihat langsung penerapan teknologi hijau di Tiongkok.

Kegiatan yang berfokus pada tujuan karbon ganda Tiongkok, yakni mencapai puncak emisi karbon dan netralitas karbon, tersebut dirancang untuk memperkenalkan kemampuan teknik kimia dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan. Selama mengikuti program, peserta mendapatkan delapan kuliah mengenai berbagai topik mutakhir, mengunjungi laboratorium, melakukan eksperimen secara langsung, serta mengikuti kunjungan ke sejumlah kawasan industri.

Materi yang diberikan mencakup teknologi penangkapan karbon, katalisis untuk energi hidrogen, hingga teknologi pemisahan membran. Berbagai bidang tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan transisi menuju energi bersih dan pengurangan emisi karbon, termasuk bagi Indonesia.

Pengalaman praktik di laboratorium Universitas Tianjin menjadi salah satu kegiatan yang paling menarik bagi peserta. Peralatan modern dan sistem digital yang digunakan memberikan gambaran mengenai perkembangan teknologi pendidikan dan penelitian teknik kimia.

Putu Pradnya Paramita Wibawa, mahasiswa tingkat tiga ITB yang menekuni penelitian katalis, mengaku terkesan setelah mengikuti eksperimen menggunakan kromatografi gas. “Di ITB, alat kromatografi gas kami masih sebagian besar dioperasikan secara manual. Di sini, sistem injeksi sampel otomatis, berbagai macam reaktor, dan platform yang sepenuhnya terdigitalisasi benar-benar membuat saya kagum,” ujarnya.

Mahasiswa lainnya, Albert Jhonatan Wellson Sinaga, juga tertarik dengan penerapan simulasi virtual dan laboratorium pintar yang memungkinkan eksperimen dilakukan dari jarak jauh. Menurut Albert, teknologi tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena mahasiswa dapat melakukan simulasi terlebih dahulu melalui komputer sebelum menjalankan eksperimen secara langsung. “Kami berharap pertukaran ini tidak berakhir tahun ini, tetapi dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang,” katanya.

Universitas Tianjin sendiri terus mengembangkan sistem pendidikan teknik kimia yang memadukan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), serta eksperimen fisik. Fakultas Teknik Kimia dan Teknologi universitas tersebut mengintegrasikan sistem pengoperasian laboratorium berbasis cloud dengan evaluasi otomatis untuk mendukung pembelajaran eksperimental jarak jauh. Model tersebut dikembangkan sebagai sumber daya pendidikan internasional yang dapat digunakan bersama oleh mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara.

Selain kegiatan laboratorium, peserta juga mengikuti kompetisi Chem-E-Car. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Universitas Tianjin berkolaborasi dengan mahasiswa Indonesia untuk membuat dan mengoperasikan mobil mini yang digerakkan melalui reaksi kimia. Kompetisi tersebut tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan teknis, tetapi juga memberikan pengalaman langsung mengenai penerapan prinsip teknik kimia dan sistem kendali otomatis. Mobil peserta dinilai berdasarkan kemampuan berhenti sedekat mungkin dengan garis finis. “Sebelumnya, saya hanya mempelajari kinetika reaksi dari buku teks. Baru setelah mempraktikkannya sendiri, saya menyadari betapa pentingnya kontrol parameter,” kata salah seorang mahasiswa Indonesia.

Teknologi yang digunakan dalam Chem-E-Car juga memperlihatkan penerapan konsep teknik kimia ramah lingkungan dalam bentuk sederhana. Mobil tersebut menggunakan reaksi kimia sebagai sumber energi dan dirancang untuk beroperasi tanpa menghasilkan emisi karbon. Rangkaian program juga membawa peserta mengenal perkembangan industri kimia di Tianjin yang memiliki sejarah panjang. Dalam kunjungan ke Institut Riset Industri Kimia Huanghai milik Tianjin Bohai Chemical Industry Group, rombongan Indonesia mempelajari perkembangan industri kimia setempat, termasuk sejarah Jiu Da Fine Salt Company dan Pabrik Soda Yongli yang didirikan Fan Xudong.

Peserta juga melihat perkembangan industri dari produksi abu soda hingga pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan, baterai ion seng, dan resin ABS transparan. Transformasi tersebut menunjukkan upaya industri kimia Tiongkok menuju produksi yang lebih hijau, bernilai tambah tinggi, dan terspesialisasi.

Kerja sama ITB dan Universitas Tianjin sendiri berkembang dalam waktu relatif singkat. Pada awal 2026, delegasi yang dipimpin dekan bidang teknik kimia ITB mengunjungi Universitas Tianjin untuk melihat fasilitas pembelajaran dan penelitian yang dikembangkan universitas tersebut. Kunjungan itu kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama tingkat fakultas dan kesepakatan pertukaran mahasiswa. Kedua institusi juga bersama-sama merancang program kamp musim panas yang diikuti mahasiswa dan anggota fakultas ITB.

Wakil Dekan Fakultas Teknik Kimia dan Teknologi Universitas Tianjin Wang Jun mengatakan pihaknya telah membangun sistem pendidikan komprehensif berbahasa Inggris bagi mahasiswa internasional jenjang sarjana, magister, dan doktoral sejak 2015.

Program teknik kimia Universitas Tianjin juga telah tiga kali memperoleh akreditasi internasional tingkat tertinggi dari Institution of Chemical Engineers (IChemE). “Sebagai salah satu jurusan teknik kimia terkemuka di Tiongkok, kami memiliki tanggung jawab untuk berbagi sumber daya pendidikan berkualitas tinggi, berkontribusi pada kerja sama Sabuk dan Jalur Sutra, serta menghadirkan keahlian Tiongkok bagi pembangunan hijau dan berkelanjutan di dunia,” kata Wang.

Kedua universitas kini melanjutkan pembahasan mengenai program pertukaran mahasiswa dan pengembangan kerja sama penelitian. ITB juga menyatakan ketertarikannya untuk berkolaborasi dengan Universitas Tianjin dalam bidang pengajaran eksperimental. Sebagai bagian dari penguatan kerja sama dua arah, ITB turut mengundang akademisi dan mahasiswa Universitas Tianjin untuk mengikuti program kamp musim panas di Indonesia pada masa mendatang.

Wang Huaiyuan dari Fakultas Teknik Kimia dan Teknologi Universitas Tianjin menilai pembangunan hijau dan berkelanjutan merupakan kepentingan bersama para profesional teknik kimia di kedua negara. Menurutnya, kehadiran akademisi dan mahasiswa muda Indonesia di Tiongkok tidak hanya membuka ruang pertukaran pengetahuan, tetapi juga memperluas pemahaman mengenai pendidikan dan budaya kedua negara. “Pembangunan hijau dan berkelanjutan merupakan tujuan bersama para profesional teknik kimia di kedua negara,” ujarnya.

Melalui pertukaran akademik dan pengalaman praktik tersebut, kerja sama antara ITB dan Universitas Tianjin diharapkan terus berkembang, sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi generasi muda Indonesia dan Tiongkok untuk berkolaborasi dalam menghadapi tantangan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.(red)