NEW YORK CITY, 14 Agustus (Xinhua), eNewskalteng.com — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadapi gugatan hukum dari dua organisasi media terkait layanan berbayar Truth Social yang memberikan akses lebih awal terhadap unggahannya. Gugatan tersebut diajukan The Intercept dan organisasi nirlaba Freedom of the Press Foundation (FPF) pada Rabu (12/8). Kedua organisasi itu menilai layanan yang memungkinkan pelanggan memperoleh unggahan Trump beberapa detik sebelum tersedia untuk publik tersebut melanggar ketentuan dalam Konstitusi AS.

Para penggugat berargumen bahwa kebijakan tersebut bertentangan dengan hak yang dijamin Amendemen Pertama, khususnya terkait akses pers dan masyarakat terhadap pernyataan presiden secara setara. Mereka juga menilai kebijakan itu melanggar ketentuan Amendemen Kelima mengenai penerapan persyaratan yang tidak wajar untuk memperoleh manfaat dari pemerintah.
Menurut para penggugat, keterlambatan akses terhadap pernyataan presiden dapat menghambat kemampuan mereka dalam menjalankan aktivitas jurnalistik. Gugatan tersebut juga menyoroti potensi dampak layanan itu terhadap pasar keuangan karena unggahan Trump kerap berkaitan dengan kebijakan pemerintah, tindakan militer, maupun keputusan ekonomi. “Tindakan seorang presiden yang menjual akses prioritas ke berita yang dia hasilkan sendiri demi keuntungan perusahaan swasta yang dikendalikannya merupakan tindakan korup dan inkonstitusional,” kata Seth Stern, kepala advokasi FPF.
Penasihat umum The Intercept David Bralow mengatakan penjualan akses lebih awal terhadap pengumuman publik presiden bertentangan dengan prinsip pers yang bebas dan independen.
Layanan yang menjadi objek gugatan tersebut bernama Truth API. Produk itu memungkinkan pelanggan menerima unggahan dari sejumlah akun Truth Social beberapa detik sebelum konten yang sama tersedia bagi pengguna umum.
Menurut dokumen pengaduan, keuntungan waktu tersebut dinilai penting karena unggahan Trump dapat memengaruhi pergerakan saham, harga minyak, dan pasar keuangan lainnya. Dampaknya terutama terlihat ketika presiden mengumumkan kebijakan pemerintah, keputusan militer, atau langkah perdagangan.
Sejumlah perusahaan investasi besar dilaporkan telah menggunakan sistem otomatis untuk memantau unggahan di Truth Social. Sistem tersebut dapat mendeteksi kata kunci tertentu dan mengambil keputusan perdagangan dalam hitungan detik, termasuk membuka atau membatalkan posisi.
Data yang ditinjau The Wall Street Journal menunjukkan aktivitas perdagangan yang signifikan setelah Trump mengunggah pernyataan mengenai Iran pada Juni. Data dari perusahaan teknologi dan data global DTN menunjukkan investor memperdagangkan lebih dari 2 juta saham dalam satu menit setelah dua unggahan Trump terkait Iran. Aktivitas tersebut turut memicu perubahan lebih dari 2 persen pada hampir dua lusin saham sektor energi dan industri.
Kedua organisasi penggugat menilai mekanisme tersebut berpotensi menciptakan ketimpangan karena informasi yang sensitif terhadap pasar dapat terlebih dahulu diperoleh pihak yang sanggup membayar layanan.
Trump Media and Technology Group (TMTG), perusahaan induk Truth Social, menetapkan tarif hingga 100.000 dolar AS per bulan untuk akses awal terhadap 10 akun Truth Social terkemuka. Biayanya disebut turun menjadi 60.000 dolar AS per bulan apabila pelanggan berlangganan untuk jangka waktu tiga tahun.
Selain akun Trump, layanan tersebut mencakup sejumlah akun pejabat dan tokoh penting, termasuk Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Robert F. Kennedy Jr., Direktur FBI Kash Patel, serta akun resmi Gedung Putih. Trump menjadi pengguna dengan jumlah pengikut terbesar di Truth Social, yakni sekitar 13 juta pengikut. Putra sulungnya, Donald Trump Jr., berada di posisi berikutnya dengan sekitar 7,5 juta pengikut.
Peluncuran Truth API juga berlangsung ketika TMTG menghadapi tekanan keuangan. Perusahaan tersebut dilaporkan mengalami kerugian ratusan juta dolar AS setiap kuartal, sementara harga sahamnya turun jauh dari level sekitar 62 dolar AS setelah perusahaan tersebut melantai di bursa hingga berada di bawah 10 dolar AS.
Trump merupakan pemegang saham terbesar TMTG dengan kepemilikan sekitar 41,3 persen. Saham tersebut, yang bernilai sekitar 950 juta dolar AS, dimiliki melalui Donald J. Trump Revocable Trust. Donald Trump Jr. tercatat sebagai direktur TMTG dan mengelola perwalian tersebut, sementara Trump menjadi satu-satunya penerima manfaat. Kepemilikan tersebut menjadi salah satu alasan munculnya sorotan etika terhadap layanan Truth API. Sebelumnya, sejumlah lembaga pengawas etika juga mengkritik penggunaan Truth Social oleh Trump karena dinilai berpotensi menghubungkan jabatan kepresidenan dengan kepentingan bisnis pribadinya.
Laporan mengenai layanan tersebut menyebut sejumlah perusahaan perdagangan termasuk pelanggan awal Truth API. Lebih dari 10 pelanggan dilaporkan telah mendaftar. Dalam perdagangan berkecepatan tinggi, selisih waktu yang sangat kecil dalam memperoleh informasi dapat memberikan keuntungan dibandingkan pelaku pasar lainnya. “Presiden berpotensi memperoleh keuntungan finansial dengan memberikan informasi pemerintah yang ‘mampu menggerakkan pasar’ kepada pihak-pihak yang bersedia dan mampu membayar perusahaan pribadinya,” demikian argumen kedua organisasi dalam pengaduan mereka.
Layanan tersebut juga mendapat sorotan dari sejumlah anggota parlemen Partai Demokrat yang mendesak Komisi Sekuritas dan Bursa AS melakukan penyelidikan terhadap praktik penjualan akses awal informasi di Truth Social.(red)












