BeritaInternasional

Xiplomacy: Dialog Antarperadaban untuk Membangun Saling Pengertian

1
×

Xiplomacy: Dialog Antarperadaban untuk Membangun Saling Pengertian

Sebarkan artikel ini
Presiden China Xi Jinping yang didampingi oleh presiden Meksiko saat itu, Enrique Pena Nieto, mengunjungi Chichen Itza, sebuah situs arkeologi peradaban Maya di Negara Bagian Yucatan, Meksiko, pada 6 Juni 2013. (Xinhua/Rao Aimin)

BEIJING, (Xinhua), eNewskalteng.com – Piramida batu dan kuil kuno di Chichen Itza, Meksiko, menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Maya. Situs arkeologi yang berada di Semenanjung Yucatan itu juga pernah menjadi salah satu tempat Presiden China Xi Jinping menunjukkan perhatiannya terhadap kekayaan budaya dan sejarah peradaban lain. Pada Juni 2013, Xi bersama istrinya, Peng Liyuan, mengunjungi Chichen Itza dalam rangkaian kunjungan kenegaraan ke Meksiko. Mereka didampingi Presiden Meksiko saat itu, Enrique Pena Nieto, beserta istrinya.

Dalam kunjungan tersebut, Xi menelusuri sejumlah bagian penting situs, termasuk Piramida Kukulkan, Lapangan Bola Besar (Great Ball Court), dan Kuil Prajurit (Temple of the Warriors). Xi menyimak penjelasan mengenai sejarah dan kebudayaan Maya. Ia juga menanyakan makna sejumlah pola yang terukir pada peninggalan kuno serta menunjukkan ketertarikan terhadap sejumlah kemiripan unsur budaya Maya dengan tradisi China, termasuk simbol yang berkaitan dengan naga.

Orang-orang berjalan melintasi Kompleks Po-i-Kalyan di Bukhara, Uzbekistan, pada 3 Agustus 2026. (Xinhua/Zafar Khalilov)

Kunjungan tersebut menggambarkan salah satu prinsip yang kerap disampaikan Xi dalam hubungan antarperadaban: perbedaan sejarah, tradisi, dan budaya bukan alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi sumber pembelajaran apabila setiap pihak mengedepankan keterbukaan dan rasa saling menghormati. “Berbagai budaya dan peradaban yang berbeda, meski tetap mempertahankan keunikan masing-masing, harus saling bertoleransi dan hidup berdampingan dengan sikap terbuka agar dapat mencapai perkembangan dan kemakmuran bersama,” ujar Xi.

Membangun Dialog Melalui Saling Belajar

Selama bertahun-tahun, Xi berulang kali menyerukan pentingnya mengambil kebijaksanaan dari berbagai peradaban dan memperkuat kerja sama untuk menghadapi tantangan bersama yang dihadapi umat manusia. Dalam pidatonya di kantor pusat UNESCO di Paris pada 2014, Xi mengutip pemikiran sastrawan Prancis Victor Hugo tentang luasnya cakrawala jiwa manusia. “Memang, kita membutuhkan pemikiran yang lebih luas daripada langit saat kita berinteraksi dengan peradaban yang berbeda,” kata Xi. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan manusia tidak terlepas dari proses pertukaran pengetahuan, gagasan, teknologi, serta kebudayaan antarwilayah.

Xi mencontohkan empat penemuan besar China, yakni pembuatan kertas, bubuk mesiu, pencetakan huruf lepas (movable-type printing), dan kompas. Penemuan tersebut memberikan pengaruh luas terhadap perkembangan dunia, termasuk Eropa pada masa Renaisans.

Selain teknologi, berbagai produk dan warisan budaya China seperti filsafat, sastra, pengobatan, sutra, porselen, dan teh juga menyebar ke Barat serta menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Contoh tersebut, menurut Xi, menunjukkan bahwa pertukaran antarperadaban bukanlah hubungan satu arah. Setiap peradaban dapat memberi pengaruh sekaligus memperoleh pengetahuan dari peradaban lainnya. “Ini merupakan keyakinan yang saya rasakan secara mendalam bahwa sikap kesetaraan dan kerendahan hati diperlukan jika seseorang ingin benar-benar memahami berbagai peradaban,” tuturnya. Xi juga mengingatkan bahwa kesombongan dan prasangka dapat menghambat terjadinya dialog. “Bersikap merendahkan terhadap suatu peradaban tidak akan membantu siapa pun menghargai esensinya, tetapi justru dapat menimbulkan permusuhan,” katanya.

Diplomasi yang Menyentuh Budaya Lokal

Pandangan tersebut turut tercermin dalam berbagai perjalanan diplomatik Xi ke sejumlah negara. Dalam kunjungannya, interaksi dengan masyarakat dan budaya lokal kerap menjadi bagian dari pendekatan diplomasi. Di Trinidad dan Tobago, misalnya, Xi sempat memainkan alat musik steelpan bersama musisi setempat. Di Fiji, ia mendengarkan lagu masyarakat adat sambil mengenakan kemeja tradisional Bula. Sementara di Uzbekistan, Xi mengunjungi Bukhara, kota kuno yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat penting Jalur Sutra.

Kunjungan tersebut meninggalkan kesan bagi Anvar Kurbanov, seorang pengrajin dari Bukhara. Ia mengingat bagaimana Xi mengamati berbagai karya kerajinan dengan penuh perhatian ketika berkunjung ke kota tersebut pada 2016. “Saya dapat merasakan keinginan tulusnya untuk memahami dan menghormati budaya kami,” kata Kurbanov. Menurutnya, setelah kunjungan Xi, semakin banyak wisatawan China yang datang ke Bukhara.

Memperkuat Pertukaran Antarperadaban

Dalam beberapa tahun terakhir, China terus meningkatkan berbagai program untuk mempererat pemahaman dan apresiasi timbal balik antarperadaban. Upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui program pertukaran budaya dan pariwisata, kerja sama penelitian arkeologi, serta penerjemahan karya-karya klasik bersama berbagai negara, termasuk Rusia dan Mesir. China juga menjadi tuan rumah sejumlah forum internasional, seperti Konferensi Dialog Peradaban Asia dan Dialog Pertukaran serta Pembelajaran Timbal Balik Antarperadaban.

Selain itu, China mengusulkan Inisiatif Peradaban Global yang bertujuan memberikan kontribusi pemikiran dan pengalaman China dalam mendorong dialog serta pembelajaran bersama antarperadaban. Dalam berbagai forum internasional, Xi menekankan pentingnya keharmonisan dalam keberagaman, keterbukaan, inklusivitas, serta pembelajaran timbal balik. Ia juga menyampaikan bahwa setiap negara memiliki hak untuk memilih jalur pembangunan berdasarkan kondisi nasional dan kebutuhan rakyatnya.

Dalam pidatonya di Dewan Urusan Dunia India (Indian Council of World Affairs) di New Delhi pada 2014, Xi menggambarkan China sebagai negara yang perlu terus belajar dari dunia. “Saya sering menekankan bahwa tujuan China adalah menjadi negara pembelajar yang hebat. Kita harus menghindari sikap berpuas diri dan menganggap diri sendiri penting. Sebaliknya, kita harus rendah hati dan sederhana, belajar dengan tekun, dan terus meningkatkan kemampuan kita,” ujar Xi.

Menurut Xi, sikap terbuka dan kerendahan hati dalam belajar merupakan salah satu faktor yang memungkinkan bangsa China terus berkembang selama ribuan tahun. Melalui pendekatan tersebut, Xiplomacy menempatkan pertukaran budaya dan dialog antarperadaban sebagai salah satu bagian penting dalam membangun hubungan antarnegara. Perbedaan tidak dipandang sebagai penghalang, melainkan sebagai kesempatan untuk saling mengenal, belajar, dan memperkaya pengalaman bersama.(red)

 

Presiden China Xi Jinping yang didampingi oleh presiden Meksiko saat itu, Enrique Pena Nieto, mengunjungi Chichen Itza, sebuah situs arkeologi peradaban Maya di Negara Bagian Yucatan, Meksiko, pada 6 Juni 2013. (Xinhua/Rao Aimin)