BeritaPemkab Kotawaringin TimurPendidikan

Kota Sampit Dinilai Strategis Pendirian Sekolah Berbasis Lingkungan

2
×

Kota Sampit Dinilai Strategis Pendirian Sekolah Berbasis Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Ketua Yayasan Pelita Bumi Khatulistiwa, Ida Oetari Poernamasasi, saat melakukan proses tanam pohon disaksikan Bupati Halikinnor, Jumat (24/4/2026). (Photo/Diskominfo)

Kotawaringin Timur, eNewskalteng.com – Pemilihan kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur tidak lepas dari nilai historis dan potensi daerah yang dulunya dikenal dengan sebutan “Emas Hijau” atau hasil alam berupa hutan, sehingga ingin kembali dihidupkan melalui konsep pendidikan berbasis alam.

Ketua Yayasan Pelita Bumi Khatulistiwa, Ida Oetari Poernamasasi, mengungkapkan alasan kuat pihaknya memilih Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sebagai lokasi pembangunan SD Alam Bumi Khatulistiwa. Saat ini sekolah alam berbasis lingkungan tersebut kini tengah memasuki tahap awal pembangunan dan ditargetkan mulai beroperasi pada tahun ajaran baru Juli 2026.

“Kami akan membangun Rumah Betang sebagai simbol budaya dan kearifan lokal. Selain itu juga akan ada bangunan lain yang difungsikan sebagai ruang belajar, termasuk kelas outdoor. Juga disiapkan kolam renang, peternakan, pertanian, yang semuanya sebagai bagian dari pembelajaran, agar anak-anak tidak asing dengan alam dan tanah,” kata Ida yang juga mantan Wakapolda perempuan pertama di Kalteng periode 2021-2022.

Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak yang turut membantu memperkenalkan keberadaan sekolah tersebut kepada masyarakat luas. “Kami memilih Kota Sampit ini berdasarkan banyak faktor, sebelumnya kami mempertimbangkan Palangkaraya, Kotawaringin Barat, atau Kotawaringin Timur, dan akhirnya kami memilih Kotim karena beberapa akses dan potensi yang ada,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Menurut Ida, pemilihan Kotim juga tidak lepas dari nilai historis dan potensi daerah yang dikenal dengan sebutan “Mas Hijau”, yang ingin kembali dihidupkan melalui konsep pendidikan berbasis alam. “Kami ingin mengembalikan itu. Tidak muluk-muluk, yang penting bagaimana anak-anak sejak usia dini dikuatkan karakternya untuk mencintai alam. Bukan hanya mencintai, tetapi juga membangun sikap dan pola pikir kritis, sehingga mereka belajar bahwa hidup harus bersahabat dengan alam. Alam adalah tempat pembelajaran yang tidak pernah berakhir,” jelasnya.

Sedangkan, sistem pembelajaran yang diterapkan akan mengedepankan pendidikan karakter, berpikir kritis, dan inovatif, dengan menggandeng lembaga pendidikan dari Surabaya sebagai mitra dalam penyusunan kurikulum.

“Kami mengajak masyarakat Kotim untuk ikut menjaga, membangun, dan berpartisipasi. Apapun bisa diberikan, termasuk tanaman. Kalau di rumah tidak ada lahan, bisa menanam di sini. Ini menjadi bagian dari kontribusi bersama untuk pendidikan anak-anak kita,” pungkasnya. (man)