BeritaPemkab Kotawaringin TimurPeristiwa

Wabup Irawati Sampaikan LKPJ 2025 di Sidang Paripurna DPRD Kotim

15
×

Wabup Irawati Sampaikan LKPJ 2025 di Sidang Paripurna DPRD Kotim

Sebarkan artikel ini
Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati, saat menyerahkan Laporan LKPJ Tahun 2025 ke Ketua DPRD Kotim Rimbun, Senin (30/3/2026). (Photo-Normansyah)

Kotawaringin Timur, eNewskalteng.com – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Kotim Tahun 2025 pada sidang paripurna DPRD Kotim. Hingga akhir Desember 2025, realisasi pendapatan mencapai Rp1,97 triliun atau 88,98 persen, Senin (30/3/2026). “Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Kotim Tahun 2025 (LKPJ) merupakan bentuk akuntabilitas pemerintah daerah kepada DPRD sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundang-undangan,” kata Irawati.

Sepanjang tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Kotim tetap berupaya menjalankan pembangunan sejalan dengan semangat “Kotim Harati” meski dihadapkan pada dinamika fiskal yang cukup menantang. “Meski demikian kita tidak menutup mata, bahwa tahun 2025 adalah tahun yang penuh dinamika fiskal,” ungkapnya.

Politisi PDI Perjuangan ini menjelaskan, dari sisi keuangan daerah, target pendapatan pada APBD 2025 ditetapkan sebesar Rp2,22 triliun. Hingga akhir Desember 2025, realisasi pendapatan mencapai Rp1,97 triliun atau 88,98 persen.

Sementara itu, target belanja daerah sebesar Rp 2,38 triliun dengan realisasi mencapai Rp2,12 triliun atau 89,16 persen. “Berdasarkan target tersebut, sampai akhir Desember 2025 realisasi pendapatan daerah secara keseluruhan mencapai 88,98 persen,” jelasnya.

Irawati juga memaparkan bahwa belanja daerah terdiri dari belanja operasi, belanja modal, belanja tidak terduga, dan belanja transfer. Dalam pelaksanaan pemerintahan, capaian kinerja meliputi pelaksanaan program dan kegiatan, kebijakan strategis, serta tindak lanjut rekomendasi DPRD tahun sebelumnya.

Ia mengakui, tantangan ke depan cukup besar, terutama terkait efisiensi anggaran dari pemerintah pusat yang menuntut pengelolaan keuangan lebih cermat. “Kita dituntut untuk bekerja lebih cerdas dan memastikan setiap rupiah yang dikelola memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Fokus pembangunan, diarahkan pada sektor prioritas seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur strategis. Selain itu, penguatan kemandirian fiskal daerah juga menjadi perhatian utama melalui optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). “PAD tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi sudah menjadi fondasi penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan,” pungkasnya. (man)